Media90 – Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung menggelar rapat dengar pendapat (RDP) bersama Institut Teknologi Sumatera menyusul mulai beroperasinya layanan transportasi publik cerdas Smart BRT Itera dengan rute Kampus ITERA–Mall Boemi Kedaton.
Rapat tersebut tidak hanya menjadi forum evaluasi awal terhadap operasional layanan, tetapi juga membuka ruang diskusi lebih luas mengenai masa depan transportasi publik di Kota Bandar Lampung yang dinilai masih membutuhkan pembenahan menyeluruh.
Ketua Komisi III DPRD Kota Bandar Lampung, Agus Djumadi, menyampaikan apresiasi atas inovasi yang dihadirkan ITERA melalui Smart BRT. Menurutnya, kehadiran layanan ini bukan sekadar menambah alternatif moda transportasi, tetapi menjadi langkah awal menuju sistem transportasi yang lebih modern, efisien, dan terintegrasi.
“Ini adalah sebuah prototipe dengan teknologi yang ada. Masyarakat yang tadinya terbiasa membayar secara tunai, kini mulai diarahkan ke sistem non-tunai. Secara perlahan, ini akan membentuk kebiasaan baru, bukan hanya dalam metode pembayaran, tetapi juga dalam penggunaan transportasi umum,” ujarnya usai RDP, Rabu (29/4/2026).
Ia menilai, inovasi Smart BRT Itera berpotensi mengubah pola perilaku masyarakat yang selama ini masih bergantung pada kendaraan pribadi. Perubahan tersebut dinilai penting untuk mengurai kemacetan sekaligus meningkatkan efisiensi mobilitas warga.
Meski demikian, DPRD mengingatkan bahwa tanggung jawab utama pengembangan transportasi publik tetap berada di tangan pemerintah daerah. Oleh karena itu, Smart BRT Itera dipandang sebagai proyek percontohan (pilot project) yang dapat menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan transportasi ke depan.
“Kami tentu mengapresiasi apa yang telah dilakukan ITERA. Namun pada prinsipnya, penyediaan transportasi publik adalah tanggung jawab pemerintah. Prototipe ini sangat baik untuk dijadikan pilot project dalam menciptakan sistem transportasi yang berkelanjutan di Bandar Lampung,” jelasnya.
Lebih lanjut, Agus juga melihat peluang besar dalam pengembangan transportasi berbasis energi ramah lingkungan. Seiring kemajuan teknologi, penggunaan kendaraan listrik dinilai sangat memungkinkan untuk diterapkan di masa mendatang.
“Ke depan sangat memungkinkan kita memiliki transportasi umum berbasis listrik yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Ini tentu akan memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Agus mengungkapkan bahwa sejak awal tahun 2026, DPRD telah mendorong Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui Dinas Perhubungan untuk segera menyusun masterplan transportasi publik dan manajemen lalu lintas yang komprehensif.
Menurutnya, kebutuhan akan rekayasa lalu lintas sudah semakin mendesak, mengingat pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak seimbang dengan sistem transportasi yang ada.
“Kami sudah mengajak Pemkot, khususnya Dishub, untuk menyusun masterplan transportasi publik dan manajemen lalu lintas. Karena rekayasa lalu lintas di kota ini sudah cukup lama tidak dilakukan secara menyeluruh,” ungkapnya.
Namun demikian, keterbatasan anggaran diakui masih menjadi kendala utama dalam merealisasikan rencana tersebut pada tahun berjalan. Meski begitu, DPRD menegaskan komitmennya untuk terus mendorong implementasi program tersebut, baik melalui anggaran perubahan maupun pada tahun anggaran 2027 mendatang.
Menutup pernyataannya, Agus mengajak masyarakat untuk mulai memanfaatkan layanan Smart BRT Itera yang telah tersedia. Ia menilai partisipasi masyarakat menjadi faktor kunci keberhasilan program ini.
“Kami mengajak masyarakat untuk memanfaatkan Smart BRT yang sudah beroperasi. Gunakan layanan ini sebaik mungkin, meskipun saat ini jam operasionalnya masih terbatas,” pungkasnya.
Dengan mulai beroperasinya Smart BRT Itera, DPRD Kota Bandar Lampung berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya penggunaan transportasi publik semakin meningkat. Layanan ini diharapkan menjadi fondasi awal dalam mewujudkan sistem transportasi perkotaan yang modern, efisien, dan berkelanjutan di masa depan.














