BERITA

FGD Penanganan Banjir Bandar Lampung Memanas, Wali Kota dan BBWS Saling Sanggah

Luluk RJMP
6
×

FGD Penanganan Banjir Bandar Lampung Memanas, Wali Kota dan BBWS Saling Sanggah

Sebarkan artikel ini
Hotel Perumahan dan Kampus Diduga Jadi Biang Penyempitan Sungai di Bandar Lampung

Media90 – Forum Group Discussion (FGD) yang membahas penyusunan roadmap penanganan banjir di Kota Bandar Lampung pada Selasa (28/4/2026) berlangsung panas dan penuh dinamika. Kegiatan yang digelar di lingkungan Institut Informatika dan Bisnis (IIB) Darmajaya itu berubah menjadi ajang adu argumentasi antara Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji Sekampung.

Ketegangan mulai mencuat saat Kepala BBWS Mesuji Sekampung, Elroy Koyari, memaparkan hasil analisis mengenai penyebab banjir di Bandar Lampung serta strategi penanganan yang dinilai perlu dilakukan secara bertahap dan terstruktur. Namun, paparan tersebut langsung mendapat respons keras dari Wali Kota Bandar Lampung, Eva Dwiana.

Ads
close ads

Dengan nada tegas, Eva Dwiana menilai penjelasan yang disampaikan BBWS tidak sesuai dengan kondisi nyata di lapangan. Ia bahkan menyoroti minimnya keterlibatan pihak balai dalam penanganan banjir di wilayahnya.

“Semua itu tidak benar. Balai tidak pernah hadir membantu penanganan banjir di Bandar Lampung,” tegas Eva di hadapan peserta FGD.

Menurutnya, meskipun sejumlah sungai besar yang melintasi kota berada di bawah kewenangan BBWS, penanganan langsung terhadap persoalan seperti tanggul jebol dan sedimentasi kerap tidak terlihat di lapangan. Hal ini, kata dia, membuat pemerintah daerah harus bekerja sendiri saat bencana terjadi.

Eva juga menyoroti persoalan banjir yang terus berulang setiap musim hujan. Ia menyebut salah satu penyebab utama adalah sistem drainase yang sudah tidak mampu menampung debit air, ditambah dengan penyempitan aliran sungai di berbagai titik.

Selain itu, ia turut menyinggung maraknya pembangunan di kawasan aliran sungai. Tidak hanya permukiman warga, tetapi juga hotel, perumahan, hingga institusi pendidikan disebut ikut mempersempit ruang aliran air.

“Mulai dari hotel, perumahan elit, rumah warga, bahkan Darmajaya ini juga ikut menutup aliran sungai. Kami masih mengedepankan sisi kemanusiaan, kalau tidak, sudah lama kami bongkar,” ujarnya menegaskan.

Sementara itu, dalam pemaparannya, Elroy Koyari menjelaskan bahwa terdapat tiga sungai utama yang berperan dalam sistem aliran air di Bandar Lampung, yakni Way Kuala, Way Balau, dan Way Garuntang. Ketiganya menjadi jalur utama pembuangan air hujan dari kawasan perkotaan menuju hilir.

Ia memaparkan sedikitnya delapan faktor utama penyebab banjir, yaitu tingginya intensitas curah hujan, jebolnya tanggul, penyempitan badan sungai, bottleneck pada gorong-gorong dan jembatan, sedimentasi, penumpukan sampah, rendahnya tanggul, serta padatnya permukiman di bantaran sungai.

Elroy juga mengakui bahwa keterbatasan anggaran menjadi tantangan besar dalam upaya penanganan banjir secara menyeluruh. Karena itu, ia menilai perlu adanya skala prioritas dalam menentukan wilayah yang paling membutuhkan penanganan segera.

“Jika semua ditangani secara bersamaan, dibutuhkan master plan yang sangat rinci dengan biaya yang tidak sedikit,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa solusi jangka panjang tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui perencanaan terpadu dari hulu hingga hilir. Pendekatan konservasi lingkungan juga dinilai penting, termasuk dorongan pembuatan sumur resapan di setiap rumah warga.

“Eliminasi banjir tidak bisa dilakukan secara parsial. Harus terintegrasi dari hulu hingga hilir,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan