BERITA

Istri Prajurit Yonif 143 TNI Hidupkan Semangat Kartini Lewat Kerajinan Tapis Lampung

Luluk RJMP
7
×

Istri Prajurit Yonif 143 TNI Hidupkan Semangat Kartini Lewat Kerajinan Tapis Lampung

Sebarkan artikel ini
Istri Prajurit Yonif 143 TNI Hidupkan Semangat Kartini Lewat Kerajinan Tapis Lampung
Istri Prajurit Yonif 143 TNI Hidupkan Semangat Kartini Lewat Kerajinan Tapis Lampung

Media90 – Di tengah penugasan prajurit Batalyon Infanteri 143/Tri Wira Eka Jaya yang menjalankan Satgas Pamtas Statis di wilayah Papua, para istri prajurit di Lampung memilih tetap aktif dan produktif. Mereka mengisi waktu dengan kegiatan kreatif yang tidak hanya bermanfaat secara ekonomi, tetapi juga menjaga warisan budaya daerah.

Melalui kain tapis khas Lampung, para istri prajurit menggaungkan semangat Raden Ajeng Kartini di era modern. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghidupkan UMKM sekaligus melestarikan budaya lokal yang sarat nilai tradisi.

Ads
close ads

Para istri prajurit yang tergabung dalam Persit Kartika Chandra Kirana Cabang XXXIV Yonif 143 memanfaatkan waktu di asrama dengan belajar dan mengembangkan kerajinan tapis. Dengan telaten, benang emas disulam membentuk motif khas Lampung seperti gajah, kapal, dan siger yang menjadi identitas budaya daerah.

Ketua Persit Cabang XXXIV Yonif 143, Novla, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari inisiatif para istri prajurit yang ditinggal bertugas oleh suami mereka.

“Saat ini, karena kami sedang ditinggal penugasan oleh para suami, kami berusaha menciptakan aktivitas positif bagi seluruh anggota, salah satunya dengan belajar menapis,” ujar Novla, Sabtu (2/5/2026).

Ia menjelaskan, kegiatan menapis didukung oleh salah satu anggota Persit yang memiliki keahlian khusus, sehingga dapat membimbing anggota lain untuk belajar secara bersama-sama. Selain tapis, para anggota juga mengembangkan kerajinan lain seperti makrame serta memanfaatkan sisa kain tapis menjadi berbagai produk kreatif.

“Kami juga belajar memanfaatkan sisa-sisa kain tapis untuk diolah kembali menjadi barang serbaguna, seperti tempat tisu, kalung, hingga bros bernuansa tapis,” tambahnya.

Pemilihan tapis bukan tanpa alasan. Kain tradisional ini merupakan identitas khas Lampung yang perlu terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas. Melalui berbagai produk kreatif, para anggota Persit berupaya menghadirkan tapis dalam bentuk yang lebih modern dan fungsional.

Hasil karya mereka dipasarkan melalui berbagai bazar yang diselenggarakan sejumlah pihak, serta dipromosikan saat ada kunjungan pejabat sebagai bentuk dukungan terhadap produk lokal.

Sementara itu, Asri, istri Kopda Angga Dwi Ferdian, mengaku telah menekuni usaha tapis selama kurang lebih tiga tahun. Ia juga aktif berbagi ilmu dengan anggota Persit lainnya.

Menurutnya, menapis menjadi pilihan karena fleksibel dan dapat dilakukan di sela aktivitas rumah tangga. Selain itu, kegiatan ini juga membantu menambah penghasilan keluarga.

“Tidak ada kesulitan berarti, meskipun harus mengurus keluarga saat suami bertugas. Produk yang kami buat juga beragam, tidak hanya kain, tetapi juga batik yang ditapis tanpa menghilangkan ciri khas Lampung,” jelasnya.

Untuk pemasaran, Asri memanfaatkan media sosial serta promosi dari mulut ke mulut. Di saat para prajurit menjaga kedaulatan negara di perbatasan, para istri turut berkontribusi dari rumah melalui karya dan kreativitas.

Melalui tapis, mereka tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ekonomi keluarga. Upaya ini menjadi wujud nyata semangat Kartini masa kini—perempuan yang mandiri, kreatif, dan berdaya.

Tinggalkan Balasan