Media90 – Di tanah basah Lampung, di antara hamparan sawah dan bukit yang diselimuti kabut pagi, lahirlah seorang anak yang kelak menjadi sosok luar biasa dalam kehidupan keluarganya: Mohammad Syafe’i bin M. Saidi.
Lahir pada 12 Desember 1959, kehadirannya seolah membawa garis takdir yang tegas, namun penuh kelembutan. Ia dilahirkan di Kecamatan Talang Padang, Desa Suka Bandung, Kabupaten Tanggamus—wilayah yang dahulu masih bagian dari Lampung Selatan—sebagai anak pertama dari pasangan M. Saidi dan Maemunah.
Masa kecilnya kemudian ditempa di Gedong Tataan, tempat yang membentuk karakter kuat dalam dirinya. Di sanalah ia belajar arti kerja keras, ketekunan, dan kesederhanaan, sekaligus menyerap nilai kasih sayang yang menjadi fondasi hidupnya.
Memasuki masa remaja, langkahnya membawanya merantau ke Yogyakarta. Di kota budaya tersebut, ia menempuh pendidikan SMA dan memperluas cakrawala pemikirannya. Ia dikenal fasih berbahasa Inggris, menjadikannya pribadi yang mampu menjembatani nilai-nilai lokal dengan wawasan global.
Namun, bagi Mohammad Syafe’i, ilmu bukan sekadar pengetahuan, melainkan bekal untuk memahami kehidupan. Ia adalah pengembara pikiran, yang memetik hikmah dari setiap pengalaman dan perjumpaan.
Dalam keseharian, ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tak pernah gentar menghadapi tantangan. Baginya, setiap pekerjaan adalah ladang pembuktian. Ia tidak bekerja untuk pujian, melainkan karena memahami bahwa hidup adalah panggilan untuk memberi manfaat.
Di mata keluarga, ia mungkin terlihat nyaris tanpa cela. Bukan karena sempurna, melainkan karena mampu menjadikan setiap kekurangan sebagai pelajaran, dan setiap kesulitan sebagai jalan menuju kebijaksanaan.
Meski dikenal berilmu dan memiliki kemampuan bahasa asing, kondisi ekonomi tak selalu berpihak. Ia pun tak ragu menanggalkan gengsi demi keluarga. Berbagai pekerjaan pernah ia jalani—mulai dari mengojek hingga berdagang sayur dengan keuntungan yang tak menentu.
Namun, justru dari kesederhanaan itulah lahir keteguhan. Ia mengajarkan bahwa dunia memang keras, tetapi manusia bisa lebih kuat jika mau berjuang.
Warisan yang Terus Hidup
Nilai-nilai kehidupan yang ia tanamkan tumbuh dalam diri anak-anaknya, yang kini melanjutkan jejak perjuangan dalam bidang masing-masing:
- Michael Erlangga, putra sulung, kini mengabdi sebagai Kapten Infanteri dan menjabat Komandan Kompi Bantuan Yonif 143 Tri Wira Eka Jaya.
- Efsha Hadista, anak ketiga, meniti karier di Kementerian Perhubungan dan berperan dalam pengelolaan aktivitas pelabuhan Panjang.
- Ade Miftahul Falah, si bungsu, mengarungi samudra, berlayar lintas benua dari Asia hingga Amerika, membawa nama keluarga ke cakrawala luas.
Mohammad Syafe’i telah berpulang pada tahun 2018. Namun, nilai dan teladan hidupnya tetap hidup dalam ingatan dan tindakan orang-orang yang ia cintai.
Ia tidak meninggalkan kemewahan, tetapi mewariskan sesuatu yang jauh lebih berharga: keberanian untuk bekerja, kejujuran dalam melangkah, serta keyakinan bahwa hidup adalah perjuangan yang harus dijalani dengan kepala tegak.
Kini, kenangan tentangnya bukan sekadar nostalgia. Ia menjadi cahaya yang menuntun langkah anak-anaknya. Dalam setiap roda yang berputar di jalanan, setiap kapal yang menembus ombak, hingga setiap komando yang bergema di lapangan, terselip ajaran seorang ayah sederhana yang agung.
Kehidupan Mohammad Syafe’i adalah puisi yang ditulis dengan keringat. Dan anak-anaknya adalah bait-bait yang terus melanjutkan syair itu—menjadikannya abadi di tengah kerasnya dunia.














