Media90 – Bakal calon Ketua Umum BPP HIPMI periode 2026–2029, Anthony Leong, menegaskan komitmennya untuk memperluas akses permodalan bagi pelaku UMKM di Indonesia. Salah satu langkah utama yang ia dorong adalah memperkuat kemitraan antara HIPMI dan sektor perbankan guna menciptakan ekosistem pembiayaan yang lebih inklusif.
Pernyataan tersebut disampaikan Anthony usai mengambil formulir pendaftaran di Sekretariat BPP HIPMI. Ia menjelaskan bahwa visi kepemimpinannya akan berfokus pada tiga hal utama, yaitu kolaborasi, penguatan jaringan (networking), dan akses permodalan.
“Fokus kita tiga saja: akses kolaborasi, networking, dan permodalan. Benang merahnya di situ,” ujar Anthony.
Akses Kredit UMKM Jadi Prioritas Utama
Anthony menilai masih terdapat ketimpangan dalam akses pembiayaan di Indonesia, terutama bagi pelaku UMKM dan pengusaha menengah. Ia menyebutkan bahwa fasilitas kredit perbankan masih lebih mudah diakses oleh pengusaha besar dibandingkan pelaku usaha kecil dan menengah.
Karena itu, ia berkomitmen menjadikan HIPMI sebagai jembatan antara pelaku usaha dan sektor keuangan, agar program pembiayaan dapat lebih merata dan inklusif.
“Jangan sampai akses permodalan hanya dinikmati oleh pengusaha besar. UMKM juga harus mendapat kesempatan yang sama,” tegasnya.
Soroti Pengusaha Menengah yang Sering Terabaikan
Selain UMKM, Anthony juga menyoroti posisi pengusaha menengah yang kerap tidak mendapatkan perhatian yang proporsional. Ia menggambarkan kondisi tersebut seperti “donat bolong”, di mana kelompok ini berada di tengah tetapi sering terlewat dalam berbagai skema bantuan.
Menurutnya, kondisi ini perlu segera diperbaiki agar pertumbuhan ekonomi lebih seimbang dan tidak hanya terpusat pada kelompok usaha besar atau mikro saja.
“Pengusaha menengah ini sering tidak terlihat. Atas dapat, bawah dapat, tapi yang di tengah justru terlewat. Ini yang harus kita dorong bersama,” jelasnya.
HIPMI Didorong Jadi Penghubung Strategis Ekonomi
Jika terpilih sebagai Ketua Umum BPP HIPMI, Anthony berkomitmen untuk menjadikan organisasi tersebut sebagai penghubung strategis antara pelaku usaha dan lembaga keuangan, terutama perbankan.
Ia berharap kerja sama yang lebih erat dapat melahirkan skema pembiayaan yang lebih mudah diakses, inklusif, serta sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan, khususnya bagi UMKM dan pengusaha menengah.
Dengan pendekatan tersebut, Anthony optimistis sektor UMKM dapat berkembang lebih cepat dan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional, sekaligus memperkuat fondasi kewirausahaan di Indonesia.














