Media90 – Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah tidak hanya menghancurkan infrastruktur fisik, tetapi juga memutus jaringan komunikasi digital sebuah negara. Setelah gempuran udara berskala besar yang dilancarkan militer Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2/2026), akses internet di wilayah Iran dilaporkan mengalami kelumpuhan hampir total.
Serangan gabungan tersebut disebut tidak hanya menyasar fasilitas militer dan pengembangan senjata, tetapi juga berdampak pada terputusnya konektivitas Iran dengan dunia luar. Akibatnya, sebagian besar jaringan komunikasi digital di negara tersebut terhenti dan membuat arus informasi menjadi sangat terbatas.
Pemadaman jaringan yang terjadi secara tiba-tiba itu membuat jutaan warga kesulitan mengakses layanan internet. Kondisi tersebut juga menyulitkan jurnalis internasional serta organisasi kemanusiaan dalam memantau perkembangan situasi di lapangan di tengah meningkatnya ketegangan militer.
Konektivitas Internet Tersisa 4 Persen
Lembaga pemantau kebebasan internet global, NetBlocks, melaporkan bahwa konektivitas internet di Iran turun drastis hanya beberapa saat setelah serangan udara dimulai.
Berdasarkan data pemantauan telemetri secara real-time, tingkat konektivitas harian di negara tersebut merosot tajam hingga hanya menyisakan sekitar empat persen dari kapasitas normal. Artinya, sekitar 96 persen jaringan internet nasional mengalami gangguan atau tidak dapat diakses.
Para pakar keamanan siber menduga kelumpuhan tersebut berkaitan dengan kerusakan pada infrastruktur komunikasi penting seperti jaringan serat optik, pusat data, serta gerbang koneksi internasional.
Akibatnya, sebagian besar wilayah Iran praktis terisolasi dari jaringan internet global, sehingga informasi yang keluar maupun masuk ke negara tersebut menjadi sangat terbatas.
Serangan Siber Diduga Terjadi Sebelum Serangan Militer
Sebelum jaringan internet benar-benar lumpuh, sejumlah situs media resmi Iran dilaporkan lebih dahulu mengalami gangguan akibat serangan siber.
Beberapa portal berita yang berafiliasi dengan pemerintah, seperti Islamic Republic News Agency dan Iranian Students’ News Agency, dilaporkan mengalami serangan siber besar yang membuat layanan mereka tidak dapat diakses.
Serangan tersebut diduga menggunakan metode Distributed Denial of Service (DDoS), yakni teknik yang membanjiri server dengan lalu lintas data secara masif hingga sistem tidak mampu merespons permintaan pengguna.
Para analis keamanan siber menilai serangan ini kemungkinan menjadi bagian dari operasi awal untuk melemahkan sistem komunikasi informasi pemerintah sebelum serangan militer dilancarkan.
Operasi Militer Bersandi Khusus
Sejumlah laporan media internasional menyebutkan bahwa serangan udara yang terjadi merupakan hasil koordinasi militer antara Amerika Serikat dan Israel.
Menurut laporan yang dihimpun oleh The Wall Street Journal, operasi militer tersebut disebut memiliki sandi khusus.
Militer Amerika Serikat menjalankan operasi dengan sandi “Operation Epic Fury”, sementara militer Israel disebut menggunakan sandi “Operation Roaring Lion”.
Serangan tersebut dikabarkan menargetkan sejumlah fasilitas strategis, termasuk instalasi yang berkaitan dengan program nuklir Iran, pangkalan militer Garda Revolusi, serta gudang penyimpanan senjata balistik.
Beberapa ledakan dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah penting di ibu kota Teheran, termasuk area yang berada di sekitar distrik pemerintahan.
Pernyataan Presiden Amerika Serikat
Presiden Amerika Serikat saat ini, Donald Trump, memberikan pernyataan resmi setelah operasi militer tersebut berlangsung.
Dalam keterangannya, ia menyebut serangan tersebut sebagai langkah preventif untuk mencegah ancaman yang dianggap berasal dari pengembangan program nuklir Iran.
Trump juga menyatakan bahwa tindakan militer itu bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan global. Pernyataan tersebut memicu berbagai reaksi dari sejumlah negara serta pengamat hubungan internasional.
Dampak ke Pasar Keuangan Global
Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah juga langsung berdampak pada pasar keuangan global. Investor di berbagai negara dilaporkan mulai menarik dana dari aset berisiko tinggi akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Di pasar aset digital, harga Bitcoin dilaporkan turun lebih dari enam persen dalam waktu singkat setelah kabar serangan militer dan gangguan internet di Iran menyebar ke pasar internasional.
Penurunan tersebut menunjukkan bahwa konflik geopolitik, khususnya di kawasan Timur Tengah yang memiliki peran penting dalam ekonomi global, dapat memicu gejolak besar di pasar keuangan dunia.
Situasi di Iran sendiri hingga kini masih sulit dipantau secara menyeluruh akibat terbatasnya akses komunikasi digital. Banyak pihak menilai pemulihan jaringan internet akan menjadi faktor penting untuk memastikan transparansi informasi di tengah krisis yang sedang berlangsung.














