Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali menunjukkan peningkatan signifikan. Berdasarkan laporan pengamatan terbaru, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut mengalami puluhan kali gempa erupsi dalam satu periode pemantauan.
Meski puncak gunung sempat tertutup kabut hingga level Kabut 0-III dan asap kawah tidak terpantau secara visual, aktivitas kegempaan tetap terdeteksi cukup intens oleh petugas pengamatan gunung api.
Cuaca di sekitar kawasan Gunung Semeru dilaporkan dalam kondisi mendung dengan angin lemah mengarah ke tenggara. Suhu udara di area pengamatan berkisar antara 21 hingga 22 derajat Celsius.
Dari data kegempaan, tercatat sebanyak 18 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo antara 10 hingga 22 mm dan durasi gempa mencapai 59 hingga 210 detik. Selain itu, petugas juga mencatat dua kali gempa hembusan dengan amplitudo 6 mm, serta dua kali gempa harmonik yang mengindikasikan adanya pergerakan fluida di dalam tubuh gunung.
Tak hanya itu, tercatat pula dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo hingga 35 mm dan durasi mencapai 119 detik.
Menyikapi kondisi tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi kembali mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting bagi masyarakat dan wisatawan di sekitar kawasan Gunung Semeru.
Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak erupsi. Kawasan ini dinilai berpotensi terdampak awan panas guguran dan aliran lahar.
Selain itu, warga juga dilarang beraktivitas dalam radius 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan karena adanya potensi perluasan awan panas dan material vulkanik hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
PVMBG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak memasuki radius lima kilometer dari kawah Gunung Semeru karena berisiko terkena lontaran batu pijar.
Potensi bahaya lain yang perlu diwaspadai meliputi awan panas, guguran lava, serta banjir lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama di wilayah Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi resmi dari petugas gunung api dan pemerintah daerah guna mengantisipasi perkembangan aktivitas vulkanik yang dapat berubah sewaktu-waktu.














