Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menjadi perhatian setelah terjadi guguran lava pijar yang meluncur hingga sejauh 1,7 kilometer ke arah Kali Krasak. Kondisi ini membuat masyarakat di kawasan rawan bencana diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas dan lahar hujan.
Berdasarkan laporan pengamatan terbaru, puncak Gunung Merapi sempat tertutup kabut dari level Kabut 0-I hingga Kabut 0-III. Meski demikian, petugas masih dapat mengamati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tebal setinggi sekitar 50 meter dari puncak.
Selama periode pengamatan, tercatat enam kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.700 meter. Aktivitas ini menunjukkan bahwa suplai magma dari dalam gunung masih terus berlangsung.
Cuaca di sekitar Merapi dilaporkan dalam kondisi mendung dengan angin tenang mengarah ke barat. Suhu udara berkisar antara 18,5 hingga 21 derajat Celsius, dengan tingkat kelembaban yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 99 persen.
Selain aktivitas visual, pengamatan seismik juga menunjukkan peningkatan. Petugas mencatat sebanyak 33 kali gempa guguran dengan amplitudo 2 hingga 10 mm dan durasi mencapai lebih dari 170 detik. Tak hanya itu, tercatat pula 24 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo maksimum 31 mm, yang umumnya berkaitan dengan pergerakan magma dan fluida di dalam tubuh gunung.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi mengingatkan bahwa potensi bahaya utama saat ini berupa guguran lava dan awan panas guguran yang mengarah ke sejumlah aliran sungai berhulu di puncak Merapi.
Di sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya meliputi Sungai Boyong sejauh lima kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga tujuh kilometer. Sementara itu, sektor tenggara yang mencakup Sungai Woro dan Sungai Gendol juga berpotensi terdampak material vulkanik masing-masing hingga tiga dan lima kilometer.
PVMBG juga mengingatkan bahwa jika terjadi erupsi eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga tiga kilometer dari puncak gunung.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di kawasan potensi bahaya serta tetap mewaspadai ancaman lahar hujan, terutama saat intensitas curah hujan meningkat di sekitar Gunung Merapi. Selain itu, warga juga diminta mengantisipasi dampak abu vulkanik yang sewaktu-waktu dapat mengganggu kesehatan maupun aktivitas sehari-hari.














