Media90.id – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup signifikan dalam pengamatan terbaru. Gunung api yang terletak di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini masih memperlihatkan aktivitas guguran lava serta gempa vulkanik yang mengindikasikan bahwa suplai magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif.
Aktivitas Visual: Asap Tebal dan Guguran Lava
Secara visual, puncak Gunung Merapi masih dapat teramati dengan jelas meskipun kondisi cuaca di sekitar area dilaporkan berawan. Asap kawah terpantau berwarna putih dengan intensitas tebal dan membumbung hingga sekitar 250 meter di atas puncak.
Selain itu, aktivitas guguran lava pijar juga masih terjadi dan mengarah ke sektor barat daya. Petugas mencatat adanya beberapa kali guguran lava dengan jarak luncur yang cukup jauh.
“Teramati 5 kali guguran lava ke arah Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 1800 meter.”
Aktivitas Seismik Masih Tinggi
Tidak hanya dari sisi visual, pemantauan seismik juga menunjukkan bahwa aktivitas internal Gunung Merapi masih cukup tinggi. Dalam periode pengamatan terakhir, tercatat sejumlah aktivitas kegempaan sebagai berikut:
- 20 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–33 mm dan durasi 66,44–191,94 detik
- 16 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–32 mm dan durasi 15,98–61,04 detik
- 2 kali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 6–10 mm dan durasi 13,01–15,45 detik
Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan magma di dalam tubuh gunung masih berlangsung aktif, sehingga potensi terjadinya erupsi maupun awan panas guguran tetap perlu diwaspadai.
Kondisi Cuaca di Sekitar Gunung
Selama masa pengamatan, kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi didominasi awan dengan angin bertiup tenang ke arah timur. Suhu udara tercatat berada pada kisaran 16,8 hingga 19,5 derajat Celsius.
Sementara itu, tingkat kelembapan udara mencapai 85 hingga 94,9 persen dengan tekanan udara berkisar antara 874,3 hingga 917,6 mmHg. Kondisi ini turut mempengaruhi dinamika aktivitas vulkanik di sekitar kawasan puncak.
Rekomendasi PVMBG dan Potensi Bahaya
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kembali mengingatkan bahwa potensi bahaya utama saat ini adalah guguran lava dan awan panas guguran yang dapat mengikuti alur sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Beberapa wilayah yang masuk dalam potensi bahaya meliputi:
- Sektor selatan–barat daya: Sungai Boyong (maksimal 5 km), Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km)
- Sektor tenggara: Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km)
- Radius puncak: lontaran material vulkanik dapat mencapai hingga 3 km jika terjadi letusan eksplosif
PVMBG menegaskan bahwa masyarakat dilarang melakukan aktivitas di wilayah yang masuk dalam zona potensi bahaya tersebut.
Waspada Lahar dan Abu Vulkanik
Selain ancaman awan panas dan guguran lava, warga yang tinggal di lereng Merapi juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar, terutama saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Aliran material vulkanik dapat terbawa air hujan melalui sungai-sungai di sekitar lereng gunung.
Petugas juga mengingatkan kemungkinan gangguan akibat abu vulkanik apabila terjadi erupsi yang lebih besar, yang dapat berdampak pada kesehatan, jarak pandang, serta aktivitas masyarakat.
Status Gunung Akan Terus Dievaluasi
Hasil pemantauan terbaru menunjukkan bahwa suplai magma di Gunung Merapi masih berlangsung, sehingga potensi terjadinya awan panas guguran tetap ada di zona yang telah ditetapkan sebagai daerah bahaya.
PVMBG menegaskan bahwa status aktivitas Gunung Merapi akan terus dievaluasi dan diperbarui apabila terjadi perubahan signifikan berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.














