Media90 – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Senin (11/5/2026) pagi sekitar pukul 10.31 WIB. Aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut menghasilkan kolom abu yang menjulang tinggi dan dapat terlihat jelas dari sejumlah wilayah di sekitarnya.
Berdasarkan laporan pengamatan, tinggi kolom letusan mencapai sekitar 1.200 meter di atas puncak atau sekitar 4.876 meter di atas permukaan laut. Abu vulkanik yang teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah tenggara serta selatan.
Erupsi ini juga terekam pada alat seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22 mm dan durasi letusan sekitar 113 detik, menunjukkan adanya aktivitas vulkanik yang cukup signifikan.
Menyikapi kondisi tersebut, pihak berwenang mengimbau masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya susulan, seperti awan panas guguran, aliran lava, hingga lahar hujan.
Sejumlah rekomendasi telah dikeluarkan untuk masyarakat. Warga dilarang melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan dalam radius 13 kilometer dari puncak erupsi. Selain itu, masyarakat juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, karena wilayah tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga mencapai 17 kilometer dari puncak gunung.
Zona berbahaya lainnya berada dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru, yang rawan terhadap lontaran material pijar saat terjadi erupsi eksplosif.
Pihak berwenang juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, serta lahar di sepanjang aliran sungai dan lembah yang berhulu dari puncak Gunung Semeru, terutama di kawasan Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Selain sungai utama, ancaman lahar juga berpotensi terjadi di anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan, khususnya saat hujan turun di wilayah lereng gunung.
Hingga saat ini, aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau secara intensif oleh petugas guna mengantisipasi kemungkinan peningkatan erupsi maupun dampak lanjutan yang dapat membahayakan keselamatan masyarakat di sekitarnya.














