Media90 – Aksi demonstrasi yang digelar oleh Aliansi BEM Bangkalan Bersatu (AB3) di depan DPRD Bangkalan menjadi perhatian luas publik setelah sebuah momen unik tersebar di media sosial.
Ratusan mahasiswa dari berbagai kampus turun ke jalan untuk menyampaikan kritik terhadap pengawasan kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Massa aksi meminta DPRD Bangkalan lebih aktif menjalankan fungsi pengawasan terhadap program yang dinilai perlu perhatian serius.
Namun di tengah jalannya aksi, perhatian publik justru tertuju pada salah satu mahasiswa yang berdiri di garis depan demonstrasi.
Mahasiswa yang terlihat lantang menyampaikan aspirasi itu ternyata merupakan anak kandung dari salah satu anggota DPRD Bangkalan yang saat itu sedang berada di dalam gedung dewan.
Fakta tersebut langsung memancing perhatian peserta aksi maupun netizen setelah videonya beredar luas di media sosial. Banyak yang menilai situasi tersebut sebagai pemandangan langka dalam dinamika politik daerah.
Alih-alih menunjukkan ketegangan, sang ayah yang mengetahui anaknya ikut berdemo justru tampak santai. Bahkan, ia terlihat tersenyum dan tertawa ketika melihat putranya menyuarakan kritik di depan gedung tempatnya bekerja sebagai wakil rakyat.
Momen tersebut langsung dibanjiri komentar positif dari warganet. Banyak netizen memuji sikap keduanya yang dianggap mampu memisahkan hubungan keluarga dengan ruang demokrasi.
Sang mahasiswa dinilai berani menunjukkan sikap kritis sebagai bagian dari kontrol sosial terhadap kebijakan publik. Sementara itu, respons santai sang ayah dianggap mencerminkan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pandangan.
Tidak sedikit pula yang menyebut kejadian ini sebagai bukti bahwa demokrasi tetap berjalan sehat ketika kritik dapat disampaikan secara terbuka, bahkan kepada orang terdekat sendiri.
Dalam demonstrasi tersebut, mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Bangkalan Bersatu membawa sejumlah tuntutan terkait kebijakan Makan Bergizi Gratis.
Mereka meminta DPRD Bangkalan meningkatkan pengawasan agar program tersebut benar-benar berjalan efektif dan tepat sasaran bagi masyarakat.
Gabungan mahasiswa dari 13 perguruan tinggi itu juga menekankan pentingnya transparansi dan evaluasi terhadap pelaksanaan program pemerintah di daerah.
Viralnya aksi ini bukan sekadar karena demonstrasi mahasiswa biasa, melainkan karena adanya gambaran hubungan unik antara kritik publik dan hubungan keluarga.
Banyak pihak menilai kejadian tersebut memperlihatkan bahwa ruang demokrasi tidak seharusnya dibatasi oleh kedekatan personal maupun jabatan politik.
Di tengah panasnya situasi demonstrasi, momen senyum sang ayah saat melihat anaknya ikut menyuarakan aspirasi justru menjadi simbol kedewasaan dalam berdemokrasi yang jarang terlihat.














