Media90 – Jagat media sosial kembali diramaikan oleh unggahan seorang netizen yang membagikan pengalaman kurang menyenangkan saat membeli Sate Padang di wilayah Semarang.
Unggahan tersebut menjadi viral setelah konsumen mengaku menemukan tusuk sate yang diduga merupakan barang bekas pakai yang dicuci lalu digunakan kembali oleh penjual.
Cerita itu dibagikan melalui akun Threads @wowartisnih dan langsung mengundang perhatian ribuan pengguna media sosial.
Dalam unggahannya, konsumen mengaku merasa mual setelah menyadari kondisi tusuk sate yang dinilai tidak wajar.
Ia menyebut tusuk sate tampak sangat tipis, seolah telah digunakan berkali-kali sebelumnya. Hal tersebut memunculkan dugaan bahwa tusuk sate bambu dicuci ulang untuk menghemat biaya operasional.
Menurut pengakuannya, pengalaman tersebut menjadi yang pertama sekaligus paling buruk selama menikmati kuliner Sate Padang.
Konsumen juga menyoroti harga sate yang mencapai Rp24 ribu per porsi. Ia mempertanyakan alasan pedagang masih menggunakan tusuk sate bekas padahal harga tusuk sate baru relatif murah di pasaran.
Keluhan tersebut memicu banyak komentar dari netizen yang ikut menyesalkan dugaan praktik tidak higienis tersebut.
Sebagian besar netizen menilai kebersihan alat makan dan penyajian makanan seharusnya menjadi prioritas utama, terlebih untuk makanan yang dijual kepada banyak orang setiap hari.
Tak hanya merasa jijik, pengunggah juga mengaku mengalami gangguan pencernaan setelah menyantap sate tersebut.
Ia menyebut dirinya mengalami diare dan menduga kondisi itu berkaitan dengan sanitasi alat makan yang kurang layak.
Pengakuan itu semakin membuat netizen khawatir karena penggunaan kembali tusuk sate berbahan bambu memang dinilai berisiko bagi kesehatan.
Penggunaan ulang tusuk sate bambu sebenarnya tidak direkomendasikan dari sisi kebersihan dan kesehatan.
Bambu memiliki serat dan pori-pori yang dapat menyerap cairan, sisa makanan, hingga air liur dari pengguna sebelumnya.
Meski sudah dicuci menggunakan sabun, bakteri dapat tetap menempel di bagian dalam serat bambu.
Kondisi tersebut berpotensi memicu kontaminasi silang dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan seperti diare maupun keracunan makanan.
Setelah unggahan tersebut viral, banyak netizen meminta sang pengunggah memberikan petunjuk lokasi atau nama warung agar masyarakat bisa lebih berhati-hati saat membeli kuliner serupa di Semarang.
Namun hingga kini, identitas pasti warung sate yang dimaksud belum diungkap secara jelas di media sosial.
Meski begitu, kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga standar kebersihan dalam bisnis kuliner, terutama yang berkaitan langsung dengan alat makan dan penyajian makanan kepada pelanggan.














