Media90 – Sebuah alarm serius bagi masa depan intelektual baru saja berbunyi. Generasi Z, yang dikenal sebagai generasi paling melek teknologi, justru diprediksi menjadi kelompok pertama dalam sejarah modern dengan skor kognitif lebih rendah dibanding Generasi Milenial. Penurunan kapasitas otak ini mencakup daya ingat, kemampuan memecahkan masalah, hingga kecerdasan intelektual (IQ) secara keseluruhan.
Fakta ini diungkapkan oleh Dr. Jared Cooney Horvath, ahli saraf dan pendidik, saat memberikan kesaksian di hadapan Komite Senat AS untuk Perdagangan, Sains, dan Transportasi pada 2026. Menurut Dr. Horvath, kemampuan literasi dan penalaran tingkat tinggi di banyak negara maju tidak hanya stagnan, tapi mulai menurun dalam dua dekade terakhir.
Paradoks Inovasi: Canggih di Luar, Rapuh di Dalam
Generasi Z hidup berdampingan dengan kecerdasan buatan (AI) dan robotika, namun semakin kesulitan menguasai hal-hal mendasar. Banyak siswa kewalahan memahami satu kalimat secara mendalam atau menyelesaikan soal matematika dasar tanpa bantuan alat digital.
Menurut Dr. Horvath, kondisi ini berakar pada penggunaan teknologi pendidikan (EdTech) yang berlebihan. Alih-alih memperkuat pemahaman, kemudahan jawaban instan justru membuat “otot mental” anak muda jarang dilatih. Teknologi yang seharusnya menjadi pelayan, perlahan membentuk otak yang tergantung dan malas berpikir.
Runtuhnya Budaya Membaca dan Efek Domino
Penyebab utama krisis ini adalah hilangnya kebiasaan membaca mendalam (deep reading). Data dari National Literacy Trust (2024) menunjukkan hanya 1 dari 3 anak usia 8–18 tahun masih menikmati membaca saat senggang. Di AS, kebiasaan membaca harian menurun lebih dari 40 persen dalam 20 tahun terakhir.
Dampak pandemi COVID-19 memperburuk kondisi ini. Riset Stanford University mengungkap kemampuan membaca lisan siswa sekolah dasar tertahan 30 persen di bawah standar. Harvard University menambahkan, kesenjangan kemampuan bahasa bisa terlihat sejak usia 18 bulan, dan jika tidak ditangani sejak dini, akan menimbulkan “lubang” kognitif yang membesar seiring usia, terutama dalam berpikir kritis dan fokus.
Doomscrolling dalam Attention Economy
Krisis intelektual Gen Z juga diperparah oleh doomscrolling, kebiasaan menggulir layar berjam-jam untuk konsumsi informasi negatif. Paparan informasi terfragmentasi seperti video singkat atau potongan berita instan melatih otak bereaksi cepat tapi kehilangan kemampuan berpikir mendalam.
Attention economy di jagat digital memang dirancang untuk mendistraksi. Akibatnya, memori kerja terganggu dan disiplin mental dari membaca buku menghilang. Siswa cenderung kehilangan kesabaran menghadapi teks panjang atau argumen kompleks, menjadi responsif terhadap layar tapi tumpul dalam refleksi batin.
Mencari Solusi Tanpa Menyalahkan
Meski situasinya serius, para pakar menekankan Gen Z tidak bisa dilabeli “bodoh”. Fenomena ini adalah sinyal darurat bagi sistem pendidikan untuk beradaptasi. Kecerdasan bersifat dinamis dan bisa diasah melalui latihan mental konsisten.
Beberapa solusi strategis yang diusulkan antara lain:
- Reorientasi literasi: Menggabungkan teks panjang dengan kecakapan digital agar siswa mampu berpikir reflektif.
- Pembatasan waktu layar: Agar teknologi menjadi pendukung, bukan pengganti proses berpikir.
- Reformasi sistem penilaian: Tidak hanya mengukur kecepatan menemukan informasi, tapi juga kemampuan sintesis kreatif dan etika penalaran.
Masa Depan Pendidikan di Persimpangan
Pendidikan kini berada di persimpangan kritis. Tidak cukup lagi mengajarkan “apa yang harus diketahui”, tapi bagaimana cara menyerap dan mengolahnya. Tanpa perbaikan, kita berisiko menciptakan generasi yang menguasai layar tapi kehilangan kemampuan menguasai pikiran mereka sendiri.














