Media90 – Kementerian Kesehatan Malaysia (MOH) mengeluarkan peringatan resmi bagi masyarakat untuk memperketat langkah pencegahan tuberkulosis (TBC). Peringatan ini muncul menjelang bulan Ramadan, di mana kunjungan warga ke bazar dan tradisi buka puasa bersama meningkat, sehingga risiko penularan penyakit menular menjadi lebih tinggi. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis pada 21 Februari 2026, sebanyak 596 kasus TBC baru tercatat secara nasional hanya dalam satu pekan, yakni periode 8–14 Februari.
Hingga kini, jumlah kumulatif kasus tuberkulosis di seluruh Malaysia telah mencapai 3.161 kasus. Otoritas kesehatan menekankan bahwa ruang yang ramai, tertutup, dan ventilasi buruk meningkatkan risiko penularan, terutama jika terdapat individu dengan TBC aktif yang belum menjalani pengobatan di tengah kerumunan. MOH menegaskan bahwa bulan Ramadan bukan penyebab langsung penularan, melainkan interaksi sosial yang meningkat secara alami memicu paparan bakteri. Berbeda dengan influenza atau Covid-19, TBC menyebar lebih lambat dan biasanya membutuhkan paparan berkepanjangan agar infeksi terjadi.
Sebaran Kasus TBC di Malaysia
Berdasarkan data geografis resmi, wilayah Sabah mencatat kasus tertinggi dengan 755 kasus. Disusul Selangor 596 kasus, Sarawak 332 kasus, dan Johor 280 kasus. Gabungan wilayah Persekutuan Kuala Lumpur dan Putrajaya berada di angka 244 kasus. Wilayah lain meliputi:
- Kedah: 181 kasus
- Penang: 172 kasus
- Perak: 154 kasus
- Kelantan: 121 kasus
- Pahang: 103 kasus
- Terengganu: 74 kasus
- Negeri Sembilan: 62 kasus
- Melaka: 48 kasus
- Perlis: 21 kasus
- Persekutuan Labuan: 18 kasus
Menteri Kesehatan Malaysia, Dzulkefly Ahmad, juga melaporkan adanya 10 klaster TBC baru di tujuh negara bagian, yang menjadi perhatian karena sifat laten TBC. Banyak orang terpapar bakteri tanpa menyadarinya, dan penyakit baru aktif jika daya tahan tubuh menurun.
Pandangan Pakar Indonesia
Menanggapi situasi ini, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Tjandra Yoga Aditama, menekankan bahaya TBC laten. Ia menjelaskan bahwa kuman dorman bisa bertahan bertahun-tahun selama imunitas tubuh baik, namun akan aktif dan menular jika kondisi fisik menurun. Fenomena ini disebut sebagai slow-burn epidemic, epidemi persisten yang meningkat perlahan namun berpotensi menjadi ancaman kesehatan serius jika tidak diantisipasi.
Prof. Tjandra juga menyarankan agar Indonesia meniru transparansi Malaysia dalam menyajikan laporan mingguan per wilayah, sehingga tren peningkatan kasus bisa cepat terdeteksi dan ditangani.
Imbauan bagi Warga Indonesia
Bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang hendak ke Malaysia atau sedang berada di sana, disarankan untuk:
- Menerapkan etika batuk dan bersin yang benar
- Memastikan ventilasi ruangan baik
- Menggunakan masker di tempat ramai
- Segera memeriksakan diri jika batuk lebih dari dua minggu
Kesadaran publik dan deteksi dini menjadi kunci memutus rantai penyebaran TBC, agar perayaan Ramadan dan Idulfitri tetap sehat dan aman bagi semua.














