INTERNASIONAL

Indonesia Bebaskan TKDN untuk AS, Peluang Baru atau Ancaman bagi Vendor Lain?

116
×

Indonesia Bebaskan TKDN untuk AS, Peluang Baru atau Ancaman bagi Vendor Lain?

Sebarkan artikel ini
Indonesia Longgarkan TKDN untuk Amerika Serikat, Vendor Lain Terancam?
Indonesia Longgarkan TKDN untuk Amerika Serikat, Vendor Lain Terancam?

Media90 – Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat resmi menandatangani perjanjian tarif timbal balik atau Agreement of Reciprocal Trade (ART) pada Kamis, 19 Februari 2026. Kesepakatan yang ditandatangani di wilayah Amerika Serikat ini membawa dampak besar bagi industri teknologi Tanah Air, terutama terkait kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Salah satu poin paling disorot adalah pembebasan perusahaan asal Amerika Serikat dari kewajiban pemenuhan TKDN. Kebijakan ini dinilai berpotensi mengubah peta persaingan industri perangkat elektronik, khususnya smartphone, di Indonesia.

Ads
close ads

Pembebasan TKDN Jadi Sorotan

Dalam dokumen kesepakatan ART, tepatnya pada Bagian 2 mengenai Hambatan Non-Tarif, disebutkan bahwa Indonesia harus membebaskan perusahaan dan produk asal Amerika Serikat dari persyaratan kandungan lokal.

Kebijakan ini memicu diskusi luas di kalangan pengamat teknologi. Selama ini, aturan TKDN menjadi syarat utama bagi vendor untuk memasarkan produknya secara resmi di Indonesia, sehingga mendorong investasi manufaktur lokal. Dengan adanya pengecualian bagi perusahaan AS, muncul potensi ketimpangan dalam persaingan pasar.

Peluang bagi Konsumen dan Produk Global

Pengamat gadget Herry SW menilai kebijakan ini dapat membawa dampak positif bagi konsumen. Salah satu keuntungan utamanya adalah percepatan masuknya produk teknologi terbaru ke Indonesia.

Selama ini, proses pemenuhan TKDN sering kali menyebabkan keterlambatan peluncuran produk global di pasar domestik. Sebagai contoh, seri terbaru dari Apple kerap membutuhkan waktu cukup lama untuk masuk secara resmi.

Pada kasus tertentu, perangkat bisa tertunda hingga berbulan-bulan akibat proses sertifikasi. Dengan pembebasan TKDN, hambatan ini berpotensi hilang, sehingga produk bisa tersedia lebih cepat dengan harga yang lebih kompetitif karena biaya produksi tambahan dapat ditekan.

Selain itu, kebijakan ini membuka peluang bagi lini smartphone dari Google, khususnya seri Pixel, untuk masuk secara resmi ke Indonesia. Selama ini, produk tersebut belum hadir secara formal karena terkendala regulasi lokal yang ketat. Jika aturan ini benar-benar diterapkan, pasar smartphone Indonesia berpotensi semakin beragam.

Ancaman bagi Vendor Non-AS

Di sisi lain, kebijakan ini juga menuai kritik karena dianggap menciptakan ketimpangan dalam industri. Sejumlah vendor besar seperti Samsung, Xiaomi, Oppo, Vivo, dan Realme telah menggelontorkan investasi besar untuk membangun fasilitas produksi di Indonesia demi memenuhi aturan TKDN.

Dengan adanya pengecualian bagi perusahaan AS, muncul kekhawatiran bahwa vendor non-AS akan berada pada posisi yang kurang menguntungkan. Mereka tetap harus memenuhi kewajiban TKDN, sementara kompetitor dari Amerika Serikat dapat masuk tanpa persyaratan yang sama.

Kreator konten teknologi Deka Pratama menilai kebijakan ini berpotensi merugikan industri lokal. Ia menyebut kesepakatan tersebut bisa memicu protes dari vendor global yang telah berkomitmen terhadap regulasi Indonesia, karena merasa diperlakukan tidak adil.

Dinamika Politik Perdagangan Global

Perkembangan kebijakan ini juga tidak lepas dari situasi politik dan hukum di Amerika Serikat. Donald Trump sebelumnya menerapkan kebijakan tarif global yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS. Pengadilan menilai kebijakan tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Sebagai respons, pemerintah AS kembali mengumumkan tarif impor baru sebesar 10 persen yang berlaku sementara. Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan perdagangan global masih sangat dinamis dan berpotensi berubah sewaktu-waktu.

Menunggu Proses Ratifikasi

Meski telah ditandatangani, perjanjian ART belum dapat langsung diterapkan. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menegaskan bahwa implementasi kebijakan masih menunggu proses ratifikasi di masing-masing negara.

Pemerintah Indonesia juga menyatakan akan terus memantau perkembangan kebijakan perdagangan global dan memastikan bahwa kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama.

Selama proses ratifikasi belum selesai, pembebasan TKDN bagi perusahaan Amerika Serikat masih bersifat rencana yang sangat bergantung pada kondisi geopolitik dan ekonomi global.

Antara Peluang dan Tantangan

Kebijakan pembebasan TKDN bagi perusahaan Amerika Serikat menghadirkan dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, konsumen berpotensi menikmati akses lebih cepat terhadap teknologi terbaru dengan harga yang lebih kompetitif.

Namun di sisi lain, industri dalam negeri dan vendor global non-AS menghadapi tantangan baru terkait keadilan bisnis dan persaingan pasar.

Ke depan, keputusan pemerintah dalam menyeimbangkan kepentingan konsumen, industri lokal, dan hubungan dagang internasional akan menjadi kunci dalam menentukan arah perkembangan ekosistem teknologi di Indonesia.

Heboh Hacker Kembar Diduga Hapus 96 Database Pemerintah AS Usai Dipecat dari Opexus
INTERNASIONAL

Media90 – Kasus pemecatan karyawan yang berujung pada sabotase siber berskala besar mengguncang industri teknologi dan keamanan federal Amerika Serikat. Dua saudara kembar, Muneeb Akhter dan Sohaib Akhter yang berusia 34 tahun didakwa setelah nekat menghapus sekitar 96 database berisi informasi sensitif milik pemerintah federal AS. Ads close ads Aksi destruktif tersebut dilakukan hanya beberapa menit setelah keduanya diberhentikan dari perusahaan tempat mereka bekerja. Kasus ini langsung menyita perhatian publik karena kedua pelaku bekerja di Opexus, perusahaan kontraktor teknologi yang melayani lebih dari 45 lembaga pemerintah AS. Ironisnya, keduanya berhasil lolos proses rekrutmen dan dipercaya menangani data penting negara meskipun…

Heboh di India Kematian Twisha Sharma Picu Dugaan Mahar dan KDRT
INTERNASIONAL

Media90 – Nama Twisha Sharma mendadak menjadi perbincangan luas di India setelah kematiannya pada 12 Mei lalu. Perempuan berusia 33 tahun tersebut ditemukan tidak bernyawa di rumah keluarga suaminya di Bhopal. Ads close ads Kasus ini dengan cepat menyita perhatian media nasional karena muncul dugaan keterlibatan konflik mahar dan kekerasan rumah tangga. Polisi kini masih mendalami penyebab pasti kematian Twisha, termasuk kemungkinan pembunuhan maupun bunuh diri. Twisha diketahui menikah dengan Samarth Singh pada Desember 2025 setelah keduanya berkenalan melalui aplikasi kencan setahun sebelumnya. Awalnya, kehidupan rumah tangga pasangan tersebut tampak harmonis. Namun menurut keluarga korban, masalah mulai muncul tidak lama…

Israel Tuai Sorotan Internasional Usai Hentikan Kapal Bantuan untuk Gaza
INTERNASIONAL

Media90 – Ketegangan terkait konflik Gaza kembali memanas setelah militer Israel mencegat armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla di kawasan Laut Mediterania. Insiden tersebut terjadi saat kapal bantuan berada di perairan internasional sekitar 460 kilometer di barat Siprus. Ads close ads Aksi pencegatan itu langsung menjadi perhatian dunia internasional setelah rekaman siaran langsung tersebar luas di media sosial. Dalam video yang beredar, sejumlah relawan dan penumpang sipil tampak mengangkat tangan ketika pasukan komando Israel memasuki kapal bantuan tersebut. Langkah militer Israel menuai kecaman dari berbagai pihak karena operasi dilakukan di luar wilayah perairan negaranya. Sejumlah pihak menilai tindakan tersebut berpotensi melanggar…

Darah Buatan Super Clot Diklaim Mampu Menghentikan Pendarahan dalam Hitungan Detik
INTERNASIONAL

Media90 – Dunia medis kembali mencatat kemajuan besar dengan hadirnya teknologi Engineered Blood Clots (EBCs), sebuah inovasi pembekuan darah buatan yang mampu menghentikan perdarahan hebat hanya dalam hitungan detik. Teknologi ini dikembangkan oleh tim peneliti lintas institusi dari Kanada dan Amerika Serikat melalui pendekatan revolusioner yang dikenal sebagai click clotting. Inovasi ini digadang-gadang menjadi solusi masa depan dalam penanganan darurat, terutama pada kasus kecelakaan, operasi besar, hingga pasien dengan gangguan pembekuan darah. Ads close ads Click Clotting: Cara Baru Membekukan Darah Berbeda dengan proses alami tubuh yang mengandalkan serat fibrin, teknologi EBCs justru memaksimalkan peran sel darah merah sebagai struktur…

Kabel Internet Global di Selat Hormuz Jadi Target, Iran Wacanakan ‘Toll Digital’ untuk Big Tech
INTERNASIONAL

Media90 – Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur vital energi dunia kini mulai dipandang dari perspektif baru oleh Iran: sebagai pusat infrastruktur digital global yang strategis. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Tasnim News Agency, mendorong pemerintah untuk mulai memonetisasi kabel serat optik bawah laut yang melintasi kawasan tersebut. Dalam laporan berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim menyoroti bahwa Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur kapal tanker minyak, tetapi juga koridor penting bagi arus data global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa. Ads close ads…

Ilmuwan China Ciptakan Sel Bahan Bakar Batu Bara dengan Potensi Nol Emisi
INTERNASIONAL

Media90 – Tim ilmuwan dari Universitas Shenzhen, China, mengklaim telah berhasil mengembangkan teknologi sel bahan bakar batu bara yang berpotensi memangkas emisi karbon dioksida (CO2) hingga mendekati nol. Inovasi yang diberi nama zero-carbon-emission direct coal fuel cell (ZC-DCFC) ini dinilai mampu mengubah cara kerja pembangkit listrik berbasis batu bara secara fundamental. Berdasarkan laporan The Independent pada akhir April 2026, teknologi ini menawarkan pendekatan baru dalam menghasilkan energi dari bahan bakar fosil dengan dampak polusi yang jauh lebih rendah dibanding metode konvensional. Ads close ads Mekanisme Kerja Tanpa Pembakaran Berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap yang mengandalkan pembakaran batu bara, sistem…

Kanker Usus pada Usia Muda Meningkat, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA
INTERNASIONAL

Media90 – Tren peningkatan kasus Kanker Kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap temuan mengejutkan, yakni adanya dugaan keterkaitan antara paparan herbisida bernama Picloram dengan meningkatnya kasus kanker ini pada pasien usia muda. Temuan tersebut membuka perspektif baru dalam dunia Onkologi, yang selama ini lebih banyak mengaitkan kanker usus dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Meski masih bersifat awal, peneliti menemukan “sidik jari” DNA pada tumor pasien yang mengindikasikan adanya pengaruh paparan lingkungan terhadap mutasi genetik. Ads close ads Jejak DNA Ungkap Paparan…