Media90.id – Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, menyambut baik inisiatif Bakrie Center Foundation (BCF) dalam memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai penggerak ekonomi desa melalui program peningkatan daya saing serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) di tingkat desa.
Inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan Program Desaku Maju yang saat ini tengah dijalankan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung dalam mempercepat transformasi ekonomi berbasis desa.
CEO Bakrie Center Foundation, Jimmy Muhammad Rifai Gani, menjelaskan bahwa selama ini BCF berfokus pada pengembangan kepemimpinan generasi muda melalui berbagai program seperti beasiswa, penguatan kapasitas pemuda, hingga campus leaders program yang telah menjangkau lebih dari 1.000 peserta di berbagai daerah.
Ia menambahkan, saat ini BCF mulai mengembangkan program baru yang berorientasi pada penguatan ekonomi desa melalui peningkatan kapasitas BUMDes. Program tersebut menggabungkan pendekatan kepemimpinan, pendampingan usaha desa, serta pengukuran daya saing melalui Village Owned Enterprise Competitiveness Index (VECI).
“Kami melihat BUMDes memiliki potensi luar biasa untuk menjadi penggerak ekonomi lokal. Namun yang kami dorong bukan hanya penguatan kelembagaan, tetapi juga bagaimana BUMDes mampu naik kelas, memiliki daya saing, dan masuk ke rantai nilai yang lebih luas,” ujar Jimmy.
BCF juga menawarkan program percontohan selama enam bulan dengan menempatkan tiga tenaga pendamping di setiap desa sasaran, terdiri dari dua lulusan perguruan tinggi dan satu pemuda lokal. Para pendamping ini akan mendapatkan pelatihan intensif sebagai konsultan pengembangan desa.
Program tersebut telah mendapatkan dukungan pendanaan dari Pupuk Indonesia dan akan dijalankan di tiga lokasi pilot project nasional, dengan Lampung menjadi salah satu wilayah prioritas.
“Kami ingin memulai dari Lampung karena ekosistemnya sangat mendukung. Lampung memiliki potensi pertanian besar, dukungan pemerintah daerah yang kuat, serta kedekatan dengan berbagai mitra strategis,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa tantangan utama pembangunan desa saat ini tidak hanya terletak pada produksi komoditas, tetapi juga pada penciptaan nilai tambah, penguatan kelembagaan desa, serta pembangunan rantai pasok yang mampu menghubungkan potensi desa dengan pasar yang lebih luas.
“Lampung memiliki ribuan BUMDes, tetapi yang benar-benar tumbuh dan menghasilkan masih sangat sedikit. Karena itu, kami membutuhkan model yang bisa direplikasi, sebuah playbook yang mampu menjadikan BUMDes sebagai operator ekonomi desa,” ujarnya.
Gubernur Mirza juga menilai Lampung tengah mendorong pengembangan ekosistem ekonomi desa berbasis komoditas unggulan seperti jagung, padi, singkong, kopi, kakao, dan kelapa. Upaya ini dilakukan melalui berbagai intervensi, mulai dari pembangunan bed dryer, pelatihan vokasi, pengembangan industri pengolahan hasil pertanian, hingga peningkatan kapasitas pemuda desa.
Menurutnya, BUMDes memiliki peran penting sebagai pengelola berbagai fasilitas ekonomi desa agar dapat memberikan nilai tambah langsung bagi masyarakat.
“Program yang ditawarkan Bakrie Center Foundation ini sangat relevan karena salah satu kebutuhan utama kami saat ini adalah penguatan kelembagaan BUMDes. Infrastruktur dan program pengembangan ekonomi desa sudah berjalan, tinggal bagaimana BUMDes menjadi pengelola yang profesional,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Mirza juga memaparkan capaian Program Desaku Maju yang telah diterapkan di puluhan desa, termasuk peningkatan nilai tambah hasil pertanian melalui pengeringan jagung dan gabah, pengembangan pakan ternak berbasis desa, serta produksi tepung mocaf sebagai substitusi tepung terigu yang mulai digunakan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Melalui kolaborasi ini, Pemprov Lampung dan Bakrie Center Foundation sepakat untuk melakukan identifikasi desa dan BUMDes potensial yang akan dijadikan lokasi percontohan. Program ini direncanakan mulai berjalan pada semester kedua tahun ini dengan target menghasilkan model pengembangan BUMDes yang dapat direplikasi di berbagai daerah.
Gubernur Mirza berharap kerja sama ini dapat menjadi langkah awal lahirnya model pemberdayaan desa yang berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi Lampung sebagai contoh nasional dalam pembangunan ekonomi berbasis desa.














