Media90.id – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan mengalami erupsi pada Minggu (7/6/2026) pukul 09.10 WIB. Letusan tersebut menghasilkan kolom abu yang teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak gunung atau berada pada ketinggian sekitar 4.076 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan hasil pemantauan, kolom abu yang muncul berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Sebaran abu terpantau bergerak ke arah barat daya mengikuti arah angin yang bertiup di sekitar kawasan gunung.
Selain aktivitas visual berupa letusan dan semburan abu vulkanik, erupsi Gunung Semeru juga terekam oleh peralatan seismograf. Data pengamatan menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 21 milimeter dengan durasi gempa letusan sekitar 104 detik.
Rekaman seismik tersebut mengindikasikan adanya aktivitas vulkanik yang cukup kuat di dalam tubuh gunung. Meski tinggi kolom abu tidak tergolong ekstrem dibandingkan beberapa erupsi besar sebelumnya, aktivitas ini tetap memerlukan kewaspadaan karena karakter Gunung Semeru yang aktif dan dapat berubah sewaktu-waktu.
Erupsi yang terjadi menunjukkan pola letusan eksplosif yang umum terjadi di Gunung Semeru. Sebaran abu vulkanik sangat dipengaruhi oleh arah dan kecepatan angin, sehingga wilayah yang terdampak dapat berubah sesuai kondisi cuaca saat erupsi berlangsung.
Sehubungan dengan aktivitas vulkanik tersebut, pihak berwenang kembali mengingatkan masyarakat untuk mematuhi seluruh rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan guna mengurangi risiko bencana.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi. Kawasan tersebut dinilai memiliki potensi tinggi terdampak awan panas maupun aliran material vulkanik.
Di luar radius tersebut, warga juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Area tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga sekitar 17 kilometer dari puncak gunung.
Selain itu, masyarakat dan wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Zona tersebut dianggap rawan terhadap lontaran material pijar yang dapat membahayakan keselamatan.
Pihak berwenang juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, serta lahar yang dapat mengalir melalui sungai dan lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru. Wilayah yang perlu mendapat perhatian khusus antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Selain sungai-sungai utama tersebut, potensi lahar juga dapat mengancam anak-anak sungai yang terhubung dengan aliran Besuk Kobokan, terutama ketika terjadi hujan dengan intensitas tinggi di kawasan puncak gunung.
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru dapat menimbulkan berbagai risiko, mulai dari awan panas yang bergerak cepat di sepanjang lembah, lontaran batu pijar di sekitar kawah, hingga aliran lahar yang membawa material vulkanik ke wilayah hilir. Abu vulkanik yang dihasilkan juga dapat mengganggu kesehatan pernapasan serta menurunkan jarak pandang di daerah terdampak.
Oleh karena itu, masyarakat yang berada di sekitar kawasan Gunung Semeru diimbau untuk selalu menggunakan masker saat terjadi hujan abu dan terus memantau informasi resmi dari otoritas terkait mengenai perkembangan aktivitas vulkanik gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut.
Hingga saat ini, aktivitas Gunung Semeru masih terus dipantau secara intensif oleh petugas pengamatan gunung api guna mengantisipasi kemungkinan perubahan aktivitas yang dapat terjadi sewaktu-waktu.














