Media90.id – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Jumat (21/8/2026) pagi. Letusan terjadi pada pukul 05.17 WIB dengan tinggi kolom abu teramati mencapai sekitar 700 meter di atas puncak.
Berdasarkan laporan petugas pengamatan gunung api, kolom letusan terlihat berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah selatan.
Aktivitas tersebut menambah catatan erupsi Gunung Semeru yang hingga kini masih terus dipantau secara intensif oleh otoritas terkait. Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia sehingga masyarakat di sekitar kawasan diminta tetap memperhatikan perkembangan aktivitas vulkanik.
Detail Erupsi Gunung Semeru 21 Agustus 2026
Berdasarkan hasil pengamatan, erupsi Gunung Semeru pada Jumat pagi memiliki sejumlah karakteristik.
- Waktu kejadian: Jumat, 21 Agustus 2026 pukul 05.17 WIB
- Gunung: Semeru
- Tinggi kolom letusan: sekitar 700 meter di atas puncak
- Ketinggian kolom abu: sekitar 4.376 meter di atas permukaan laut
- Warna abu vulkanik: putih hingga kelabu
- Arah sebaran abu: selatan
- Amplitudo maksimum: 22 mm
- Durasi erupsi: 152 detik
Petugas pengamatan melaporkan kolom abu teramati dengan intensitas tebal ke arah selatan. Aktivitas erupsi tersebut juga terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan berlangsung selama 152 detik.
Abu Vulkanik Mengarah ke Selatan
Hasil pengamatan visual menunjukkan kolom abu vulkanik bergerak ke arah selatan dengan intensitas cukup tebal.
Masyarakat yang berada di wilayah yang berpotensi terdampak arah sebaran abu diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya hujan abu vulkanik.
Kondisi tersebut terutama perlu diperhatikan oleh pengendara maupun masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.
Jika konsentrasi abu vulkanik meningkat di permukiman, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata untuk mengurangi paparan abu.
Ada Sejumlah Zona yang Harus Dihindari
Seiring aktivitas vulkanik Gunung Semeru, masyarakat diminta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan otoritas gunung api.
Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Di luar radius tersebut, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Area tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
Puncak Semeru Masih Berbahaya
Masyarakat, pendaki, maupun wisatawan juga diminta tidak memasuki area puncak Gunung Semeru dan kawasan sekitarnya.
Area dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru menjadi wilayah yang perlu dihindari karena masih terdapat potensi bahaya lontaran batu pijar.
Risiko tersebut dapat meningkat apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik secara tiba-tiba.
Waspadai Awan Panas, Lava dan Lahar
Selain abu vulkanik, masyarakat juga perlu mewaspadai potensi bahaya lain seperti awan panas guguran, guguran lava, dan aliran lahar.
Potensi tersebut terutama perlu diwaspadai di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
Beberapa jalur yang perlu menjadi perhatian antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Potensi lahar juga dapat terjadi di sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Risiko lahar dapat meningkat ketika hujan turun di kawasan puncak karena material vulkanik yang terbawa air dapat mengalir mengikuti jalur sungai.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diimbau tetap tenang dan tidak panik dalam menghadapi aktivitas erupsi.
Warga juga diminta mengikuti arahan dari BPBD, PVMBG, serta pemerintah daerah dan tidak memasuki zona bahaya yang telah ditetapkan.
Apabila terjadi hujan abu, masyarakat dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah.
Perkembangan aktivitas Gunung Semeru juga perlu dipantau melalui informasi resmi dari otoritas terkait.
Kepatuhan terhadap seluruh rekomendasi keselamatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko apabila aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali mengalami peningkatan.














