Media90 – Suasana perayaan kelulusan sekolah kembali menjadi perhatian publik setelah sebuah video dari Kabupaten Jayapura viral di media sosial.
Rekaman tersebut memperlihatkan momen siswa-siswi SMA Advent Doyo Baru merayakan kelulusan dengan tradisi coret-coret seragam sekolah.
Unggahan yang beredar luas di Instagram itu langsung menyita perhatian netizen dan memancing berbagai komentar.
Banyak pengguna media sosial menyoroti aksi para siswa yang dinilai berbeda dari biasanya.
Tradisi Coret-Coret Jadi Sorotan
Dalam video yang beredar, tampak beberapa siswi mengenakan seragam yang dipenuhi coretan warna-warni sebagai bagian dari perayaan kelulusan.
Tradisi mencorat-coret pakaian sekolah memang kerap dilakukan sebagai bentuk kenangan setelah menyelesaikan pendidikan tingkat SMA.
Namun perhatian netizen justru tertuju pada salah satu adegan yang dinilai kontroversial.
Seorang siswi terlihat melakukan aksi yang dianggap berlebihan saat bercanda dengan rekannya menggunakan tangan yang telah dipenuhi cat warna ke area sensitif.
Potongan video tersebut kemudian ramai dibagikan ulang oleh berbagai akun media sosial dan memicu perdebatan di kolom komentar.
Sebagian netizen menilai aksi tersebut tidak pantas dipertontonkan di ruang publik karena dinilai melewati batas dalam perayaan kelulusan sekolah.
Namun, ada pula yang menganggap kejadian itu hanyalah candaan antar teman sebaya yang terjadi secara spontan di tengah euforia kelulusan.
Terjadi di Doyo Baru, Jayapura
Peristiwa dalam video viral itu diketahui terjadi di wilayah Doyo Baru, Kecamatan Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua.
Nama sekolah tersebut ikut menjadi sorotan publik setelah video menyebar luas di internet.
Selain itu, nama YPMAK juga sempat disebut dalam konteks unggahan yang beredar, sehingga memicu rasa penasaran sebagian netizen terkait keterkaitannya dengan lingkungan pendidikan di Papua.
Picu Diskusi soal Perayaan Kelulusan
Ramainya video ini kembali membuka diskusi mengenai cara merayakan kelulusan sekolah di era digital.
Banyak pihak menilai euforia kelulusan sebaiknya tetap dilakukan secara positif tanpa menimbulkan kontroversi atau dampak negatif di media sosial.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk lebih bijak dalam menyebarkan konten viral, terutama yang melibatkan pelajar dan lingkungan pendidikan, agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan di kemudian hari.














