Media90 – Laman resmi Badan Gizi Nasional mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Bukan karena inovasi teknologi yang dihadirkan, situs tersebut justru ramai dikritik netizen akibat tampilan visual yang dianggap kurang maksimal.
Perhatian publik mulai tertuju pada website bgn.go.id setelah pengguna internet menemukan adanya fitur asisten virtual berbasis kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Kehadiran fitur tersebut awalnya dinilai menarik karena mampu memberikan informasi secara cepat kepada pengunjung situs. Namun di balik fitur modern itu, netizen justru menyoroti elemen visual website yang dianggap kurang profesional.
Visual Situs Dinilai Terlalu Instan
Sejumlah pengguna media sosial menduga ilustrasi dan aset grafis pada website tersebut berasal dari AI generatif tanpa proses penyempurnaan lebih lanjut.
Dugaan itu memicu kritik karena tampilan visual dinilai tidak mencerminkan kualitas proyek digital berskala besar.
Berbagai komentar pedas bermunculan di sejumlah platform media sosial. Banyak netizen menyayangkan penggunaan visual yang dianggap kurang orisinal, terlebih situs tersebut merupakan platform resmi milik lembaga negara.
Sebagian warganet menilai pemerintah seharusnya melibatkan ilustrator maupun desainer lokal agar hasil akhir website terlihat lebih profesional serta memiliki identitas visual yang kuat.
Anggaran SIPGN Ikut Jadi Sorotan
Kontroversi semakin meluas setelah publik mengaitkan tampilan website dengan anggaran pengembangan Sistem Informasi Pemenuhan Gizi Nasional (SIPGN).
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, proyek tersebut disebut memiliki nilai hingga Rp550 miliar.
Nilai anggaran yang fantastis itu membuat publik mempertanyakan detail penggunaan dana, terutama pada aspek desain dan pengembangan visual platform digital tersebut.
Banyak netizen menilai anggaran sebesar itu seharusnya mampu menghasilkan website dengan kualitas yang lebih matang, baik dari sisi teknologi maupun estetika tampilan.
Transparansi Proyek Dipertanyakan
Kritik publik tidak hanya tertuju pada dugaan penggunaan AI generatif, tetapi juga pada transparansi pengelolaan proyek digital pemerintah.
Sejumlah pengguna media sosial meminta adanya penjelasan rinci mengenai pembagian anggaran dalam proyek SIPGN.
Di berbagai platform, komentar bernada sindiran pun terus bermunculan. Sebagian netizen bahkan membandingkan tampilan situs tersebut dengan website buatan kreator independen yang dinilai lebih rapi meski dibuat dengan biaya jauh lebih kecil.
Belum Ada Klarifikasi Resmi
Hingga saat ini, pihak Badan Gizi Nasional belum memberikan tanggapan resmi terkait ramainya kritik publik terhadap tampilan website mereka.
Belum ada pula penjelasan terkait dugaan penggunaan aset AI generatif maupun rincian anggaran proyek yang kini menjadi sorotan masyarakat.
Meski demikian, perdebatan mengenai penggunaan teknologi AI dalam proyek pemerintah diperkirakan masih akan terus berlanjut, terutama terkait kualitas hasil akhir dan efektivitas penggunaan anggaran publik.














