Media90 – Batas antara kecerdasan biologis dan komputasi digital semakin kabur. Cortical Labs, perusahaan bioteknologi asal Australia, berhasil menggabungkan sekitar 200.000 sel otak manusia (neuron) dengan chip komputer, lalu melatihnya untuk memainkan game klasik Doom.
Dalam demonstrasi yang dipublikasikan, jaringan neuron tersebut mampu mengontrol karakter dalam game, mulai dari bergerak hingga menembak musuh. Menariknya, sel otak ini tidak dikendalikan manusia secara langsung. Semua aksi dihasilkan dari respons alami jaringan neuron yang diterjemahkan oleh sistem komputer.
Cara Kerja Sistem CL1
Eksperimen ini memanfaatkan sistem komputasi biologis CL1 yang terhubung dengan jaringan Cortical Cloud. Neuron manusia ditumbuhkan di atas chip kecil yang dilengkapi elektroda untuk membaca dan mengirim sinyal listrik.
Proses kerjanya:
- Kondisi di dalam game diubah menjadi rangkaian sinyal listrik dan dikirim ke neuron.
- Respons sel otak diterjemahkan kembali menjadi aksi dalam game, seperti bergerak, berputar, atau menembak musuh.
- Mekanisme ini menciptakan interaksi dua arah real-time antara lingkungan digital dan jaringan biologis.
Performa Masih Seperti Pemula
Meski terobosan besar, performa neuron dalam bermain Doom masih terbatas. Para peneliti menyebut kemampuannya mirip pemain pemula: karakter sering kalah atau gagal merespons serangan dengan cepat.
Namun, jaringan neuron mulai menunjukkan tanda adaptasi, seperti kemampuan mencari musuh, bergerak di peta, dan merespons ancaman, meski belum konsisten.
Pengembangan dari Eksperimen Sebelumnya
Eksperimen ini merupakan kelanjutan riset tahun 2022, ketika Cortical Labs melatih sekitar 800.000 neuron untuk memainkan game Pong melalui sistem DishBrain.
Dibandingkan Pong yang berbasis dua dimensi, Doom menghadirkan tantangan lebih kompleks karena menggunakan lingkungan tiga dimensi yang membutuhkan navigasi dan refleks lebih tinggi, meski jumlah neuron yang digunakan lebih sedikit.
Potensi untuk Ilmu Saraf dan Medis
Eksperimen ini tidak hanya menunjukkan kemampuan teknologi, tetapi juga membuka peluang riset di bidang ilmu saraf.
Para peneliti berharap interaksi langsung antara sel otak dan sistem digital dapat:
- Membantu memahami cara otak belajar dan beradaptasi.
- Mempercepat pengembangan obat.
- Menjadi fondasi teknologi komputasi biologis masa depan.
Dengan keberhasilan awal ini, langkah Cortical Labs menandai era baru di mana otak manusia dan sistem digital dapat berkolaborasi untuk tujuan ilmiah dan teknologi.














