Media90 – Penggunaan chatbot berbasis kecerdasan buatan untuk mendiagnosis penyakit secara mandiri ternyata menyimpan risiko besar. Studi terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal JAMA Network Open mengungkap bahwa model AI saat ini memiliki tingkat kesalahan lebih dari 80 persen pada tahap diagnosis awal.
Peringatan atas Tren Swadiagnosis
Temuan ini menjadi peringatan serius terhadap tren swadiagnosis (self-diagnosis) menggunakan AI tanpa pengawasan tenaga medis. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan chatbot seperti ChatGPT untuk mencari informasi kesehatan memang meningkat pesat.
Namun, para peneliti menegaskan bahwa hasil yang diberikan AI tidak selalu dapat diandalkan sebagai dasar pengambilan keputusan medis. Tanpa pemahaman yang tepat, pengguna berisiko salah menafsirkan informasi yang diberikan.
Perbedaan Akurasi Diagnosis Awal dan Akhir
Riset yang dipimpin oleh Arya Rao dari Harvard University menguji 21 model AI dalam 29 skenario medis berbeda.
Hasilnya menunjukkan perbedaan signifikan:
- Akurasi diagnosis akhir: hingga 91% (dengan data lengkap)
- Akurasi diagnosis awal: tingkat kesalahan lebih dari 80%
Pada tahap awal diagnosis—yang biasanya melibatkan penyusunan berbagai kemungkinan penyakit (differential diagnosis)—AI justru sering gagal memberikan analisis yang tepat.
“Setiap model yang kami uji gagal dalam sebagian besar kasus,” ungkap Rao.
Terlihat Meyakinkan, Tapi Tidak Selalu Akurat
Menurut Marc Succi dari Massachusetts General Hospital, salah satu masalah utama AI adalah cara penyampaiannya yang tampak percaya diri.
Meski terdengar meyakinkan, jawaban yang diberikan tidak selalu didukung oleh penalaran medis yang kuat. Hal ini bisa:
- Menyesatkan pengguna
- Memicu kecemasan berlebihan
- Mendorong keputusan medis yang keliru
Dalam beberapa kasus, AI memang mampu memberikan jawaban sebagian benar dengan akurasi 63–78 persen. Namun, angka tersebut masih belum cukup aman untuk dijadikan dasar diagnosis mandiri.
Risiko Nyata bagi Kesehatan
Para peneliti menegaskan bahwa AI seharusnya tidak dijadikan rujukan utama dalam menentukan penyakit. Kesalahan pada tahap awal diagnosis dapat berdampak serius, seperti:
- Keterlambatan penanganan penyakit
- Pengobatan yang tidak tepat
- Biaya medis yang membengkak
AI Sebagai Alat Bantu, Bukan Pengganti Dokter
Kesimpulan utama dari studi ini adalah bahwa AI sebaiknya digunakan sebagai alat pendukung informasi, bukan pengganti tenaga medis profesional.
Dengan pendekatan yang tepat, teknologi AI tetap bisa memberikan manfaat besar dalam dunia kesehatan. Namun, keputusan akhir terkait diagnosis dan pengobatan tetap harus berada di tangan dokter atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Di tengah kemudahan akses informasi digital, kehati-hatian tetap menjadi kunci agar teknologi tidak justru membawa risiko baru bagi kesehatan masyarakat.














