NASIONAL

JPO ‘Tanpa Hubungan’ di Rasuna Said Bakal Dibongkar, Warga Dukung

Novta Tria
14
×

JPO ‘Tanpa Hubungan’ di Rasuna Said Bakal Dibongkar, Warga Dukung

Sebarkan artikel ini
JPO Tanpa Hubungan di Rasuna Said Segera Berubah Tinggal Kenangan

Media90.id – Jembatan penyeberangan orang (JPO) di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, belakangan menjadi sorotan karena letaknya berdekatan tetapi tidak saling terhubung. Kondisi tersebut bahkan membuat keberadaan dua JPO di lokasi itu ramai diperbincangkan di media sosial.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kini berencana membongkar salah satu JPO tersebut. JPO yang akan dibongkar merupakan JPO lama yang tidak terhubung dengan fasilitas LRT.

Ads
close ads

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan keberadaan dua JPO yang memiliki fungsi serupa menjadi salah satu contoh pembangunan yang sebelumnya tidak terkoordinasi dengan baik.

“Tetapi setelah saya lihat sendiri, ini menunjukkan bahwa dulu dalam membuat kebijakan sering kali seperti yang saya katakan, ego pemimpinnya itu tidak dikomunikasikan secara baik. Sehingga sebenarnya dua-duanya ini fungsinya sama persis. Cuma yang satu yang dibuat oleh pemerintah DKI Jakarta itu lebih lama, kalau dilihat desainnya pasti desain tahun 80-an atau 90-an akhir lah, awal lah,” kata Pramono Anung di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).

Sementara itu, JPO lainnya dibangun lebih baru oleh pihak LRT dan KAI serta telah terhubung dengan Stasiun LRT. Setelah melakukan pembahasan bersama sejumlah pihak terkait, Pramono memutuskan salah satu JPO akan dibongkar.

“Sementara yang oleh LRT dan juga KAI, ini yang lebih baru. Maka tadi setelah saya berdiskusi dengan Kepala Dinas Bina Marga, dengan Walikota Jakarta Selatan, Dinas Perhubungan, dan juga dengan Dinas Kominfotik, saya sudah memutuskan bahwa yang satu akan kita bongkar,” sambungnya.

JPO Lama Tak Ramah Disabilitas

Pramono menjelaskan keputusan membongkar JPO lama juga mempertimbangkan aspek aksesibilitas. Menurutnya, JPO lama tidak ramah bagi penyandang disabilitas.

Jika kedua JPO tersebut dipaksakan untuk disambungkan, terdapat perbedaan ketinggian yang cukup signifikan. Kondisi tersebut justru akan menyulitkan penyandang disabilitas untuk menggunakan fasilitas penyeberangan tersebut.

“Alasannya adalah karena yang satu itu betul-betul tidak ramah terhadap disabilitas. Sehingga kalau kita sambungkan, ada beda tinggi yang cukup tinggi sehingga itu menyebabkan masyarakat yang menyandang disabilitas tidak bisa memanfaatkan lokasi atau tempat tersebut,” ujarnya.

Setelah JPO lama dibongkar, masyarakat nantinya diarahkan menggunakan satu JPO baru yang sudah terhubung dengan LRT. Pemerintah juga akan memastikan fasilitas tersebut dapat digunakan dengan lebih baik, termasuk fasilitas lift.

“Maka kami akan membongkar yang lama, kemudian hanya ada satu yang baru. Dan yang baru nanti sepenuhnya maintenancenya kita perbaiki, kita permudah, termasuk lift dan sebagainya yang sudah ada kita lakukan pengecekan sehingga mudah-mudahan tidak lagi ‘Love and Hate’, tidak lagi ‘Love and Love’ Lovenya satu aja, Love satu yang baru,” tutur Pramono.

Pembongkaran Ditargetkan Selesai Oktober

Kepala Dinas Bina Marga DKI Jakarta Heru Suwondo mengatakan proses pembongkaran JPO lama diperkirakan membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga pekan.

Namun, proses tersebut baru dapat dilakukan setelah Badan Pengelolaan Aset Daerah (BPAD) menyelesaikan proses lelang pembongkaran.

“Nah, nanti setelah kami sampaikan ke BPAD, dari BPAD akan melelang, Pak. Nah, kalau pembongkaran, saya lihat sih tidak begitu lama, mungkin sekitar 2-3 minggu, 2-3 minggu selesai. Jadi setelah BPAD melakukan lelang dan selesai, 2-3 minggu selesai,” kata Heru saat ditanya Pramono.

Pramono menargetkan pembongkaran JPO tersebut selesai pada September atau paling lambat Oktober 2026.

“Jadi artinya bulan September, paling lambat Oktober selesai,” timpal Pramono.

Untuk meminimalkan dampak terhadap pengguna jalan, proses pembongkaran akan dilakukan pada malam hari. Pramono memastikan pekerjaan tersebut tidak akan mengganggu arus lalu lintas di Jalan Rasuna Said.

“Tapi nggak akan ganggu lalu lintas lah, yang kemarin potong monorel aja alhamdulillah lalu lintas juga tidak terganggu,” ujar Pramono.

Warga Dukung Pembongkaran JPO Lama

Rencana pembongkaran JPO lama mendapat dukungan dari sejumlah warga. Salah satunya Keke (28) yang menilai pembongkaran merupakan pilihan yang lebih baik karena sudah tersedia JPO baru yang terhubung dengan LRT.

“Kalau menurut saya sih lebih baik dibongkar,” kata Keke saat ditemui di Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).

Keke berharap proses pembongkaran dapat selesai sesuai target dan tidak mengganggu aktivitas pengguna jalan.

“Kalau 2 sampai 3 Minggu mungkin masih oke ya, tapi kita tahu sendiri kalau apa, proyek Indonesia kan suka molor-molor ya, semoga bisa tepat waktu sih,” ujarnya.

Warga lainnya, Yudi (40), juga menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, JPO baru sudah menyediakan akses penyeberangan yang terhubung dengan LRT dan TransJakarta.

“Kalau saya lihat ya, karena ini sudah ada tempat penyeberangan yang baru ya, yang terhubung dengan apa namanya Transjakarta sama LRT, sebaiknya ya JPO yang lama dihilangkan saja, karena kemungkinan fungsinya sudah tidak terpakai ya. Walaupun sebenarnya masih ada yang melewatinya, tapi sebaiknya mendingan dipindah ke yang baru saja,” kata Yudi.

Yudi menilai penggunaan JPO lama sudah tidak terlalu ramai dibandingkan JPO baru. Karena itu, dia berharap pembongkaran dapat membuat kawasan tersebut terlihat lebih rapi.

“Ya karena udah nggak terlalu terpakai mendingan sebaiknya dihilangkan saja, mendingan biar kelihatan lebih mana ya, tampilannya juga jadi lebih baik lagi gitu,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *