Media90 – Langkah Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, melalui program “Desaku Maju” mendapat perhatian luas, terutama dari kalangan petani. Program ini dinilai bukan sekadar wacana, melainkan telah menunjukkan hasil nyata di lapangan melalui inovasi Pupuk Hayati Cair (PHC).
PHC hadir sebagai solusi sederhana namun berdampak besar bagi sektor pertanian. Berbahan dasar limbah rumah tangga seperti air cucian beras dan air kelapa, pupuk ini diolah menjadi nutrisi tanaman yang terbukti mampu meningkatkan kesuburan tanah sekaligus hasil panen.
Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan kerap mengalami kelangkaan, PHC menawarkan alternatif yang lebih murah, mudah dibuat, dan berkelanjutan. Sejak diluncurkan pada 2025, program ini telah menjangkau 500 titik di 15 kabupaten/kota di Lampung.
Hingga April 2026, tercatat sebanyak 31.327 petani telah mengaplikasikan PHC di lahan seluas 25.697 hektare, terutama untuk komoditas padi. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (PTPH) Lampung, penggunaan PHC mampu meningkatkan produktivitas padi hingga 24,95 persen dan jagung sebesar 21,72 persen.
Capaian ini tidak hanya berupa angka statistik, tetapi juga terlihat dari perubahan nyata di lapangan. Salah satunya dirasakan Gapoktan Barokah di Desa Bumiwijaya, Lampung Utara, yang mencatat peningkatan hasil panen padi dari 6 ton menjadi 7,5 ton setelah menggunakan PHC.
Sementara itu, petani melon di Tanggamus melaporkan kualitas buah yang lebih baik serta peningkatan hasil panen yang signifikan dibandingkan penggunaan pupuk konvensional.
Selain meningkatkan produktivitas, PHC juga memberikan dampak positif terhadap kesehatan tanaman. Daun menjadi lebih hijau, batang lebih kuat, dan serangan hama cenderung berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan organik bukan hanya tren sementara, tetapi kebutuhan jangka panjang dalam pertanian berkelanjutan.
Lebih jauh, PHC juga menjadi bagian dari strategi besar dalam membangun kemandirian desa. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menargetkan pada 2027 sebanyak 2.651 desa mampu memproduksi dan menggunakan pupuk organik cair secara mandiri.
Target tersebut dilakukan secara bertahap, mulai dari 500 desa pada 2025, meningkat menjadi 1.500 desa pada 2026, hingga menjangkau seluruh desa di 2027.
Jika target ini tercapai, dampaknya tidak hanya pada peningkatan produksi pertanian, tetapi juga pada efisiensi biaya dan stabilitas harga. Petani tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan pupuk dari luar daerah, karena desa memiliki cadangan produksi sendiri.
Kondisi ini sekaligus membuka peluang baru dalam struktur ekonomi desa. Petani tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga dapat menjadi produsen input pertanian. Perputaran ekonomi pun terjadi di tingkat desa, sehingga memperkuat ketahanan ekonomi lokal.
Meski demikian, sejumlah tantangan masih perlu dihadapi, seperti pendampingan teknis, konsistensi penerapan, serta perubahan pola pikir petani. Peralihan dari pupuk kimia ke pupuk organik tidak dapat terjadi secara instan, sehingga dibutuhkan edukasi berkelanjutan serta pembuktian nyata di lapangan.
Keberhasilan awal program ini turut mendapat pengakuan, salah satunya melalui KWP Award 2026 yang diterima Gubernur Lampung sebagai penggerak ekonomi agrikultur dan ketahanan pangan. Namun, keberhasilan sejati program ini akan ditentukan oleh keberlanjutannya di tingkat petani.
Pada akhirnya, program “Desaku Maju” bukan hanya sekadar kebijakan pemerintah daerah, tetapi juga menjadi taruhan besar bagi masa depan pertanian Lampung yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan berdaya saing.














