INTERNASIONAL

Ilmuwan Klaim Temukan “Alamat Surga” di Alam Semesta, Sejauh 439 Sekstiliun Kilometer

11
×

Ilmuwan Klaim Temukan “Alamat Surga” di Alam Semesta, Sejauh 439 Sekstiliun Kilometer

Sebarkan artikel ini
Heboh! Ilmuwan Sebut Ada “Alamat Tuhan” Sejauh 439 Sekstiliun KM
Heboh! Ilmuwan Sebut Ada “Alamat Tuhan” Sejauh 439 Sekstiliun KM

Media90 – Selama ribuan tahun, keberadaan surga menjadi perdebatan panjang yang memisahkan antara ilmuwan dan teolog. Namun, sebuah klaim mengejutkan datang dari Dr. Michael Guillen, mantan pengajar Harvard University yang memiliki gelar PhD di bidang fisika, matematika, dan astronomi. Dalam esai terbukanya, ia menyatakan telah mengidentifikasi “lokasi” surga di alam semesta secara fisik.

Melalui pendekatan yang tidak biasa, Guillen menggabungkan konsep kosmologi modern bernama Cosmic Horizon dengan penafsiran ayat-ayat dalam Alkitab. Berdasarkan perhitungan matematisnya, lokasi yang ia yakini sebagai surga berada pada jarak sekitar 273 miliar triliun mil atau setara dengan 439 sekstiliun kilometer dari Bumi. Meski terdengar sangat spesifik, Guillen mengakui bahwa teorinya bersifat spekulatif dan bukan bagian dari sains arus utama.

Mengacu pada Teori Ekspansi Alam Semesta

Guillen mendasarkan teorinya pada konsep ekspansi alam semesta yang pertama kali dipopulerkan oleh astronom Edwin Hubble pada tahun 1929. Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi saling menjauh satu sama lain, layaknya serpihan yang terpental dari sebuah ledakan besar.

Baca Juga:  Penulisan “Thailand” Jadi “Tailan” di Peta Indonesia, Ini Penjelasan Resmi Pemerintah

Penemuan ini melahirkan apa yang dikenal sebagai Hukum Hubble, yakni semakin jauh jarak sebuah galaksi dari Bumi, semakin cepat galaksi tersebut bergerak menjauh. Dari pola ini, Guillen membuat kesimpulan matematis ekstrem. Ia berpendapat bahwa pada jarak 439 sekstiliun kilometer, sebuah galaksi akan bergerak menjauh dengan kecepatan 186.000 mil per detik, yang setara dengan kecepatan cahaya.

Cakrawala Kosmik dan Konsep Keabadian

Guillen menyebut titik tersebut sebagai Cosmic Horizon atau cakrawala kosmik, yaitu batas maksimum yang dapat dijangkau oleh pengamatan manusia. Menurutnya, cahaya dari wilayah di luar batas ini tidak akan pernah sampai ke Bumi karena ruang di antaranya mengembang lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Baca Juga:  Torehan Prestasi Gemilang: Mahasiswi Agribisnis Unila Sabet Medali Emas dalam Kompetisi Sains Indonesia di Puskanas

“Manusia tidak akan pernah bisa mencapainya,” tulis Guillen, menegaskan bahwa bahkan teknologi paling canggih sekalipun tidak mampu menembus batas tersebut.

Ia kemudian mengaitkan konsep ini dengan teori relativitas dari Albert Einstein. Guillen menyatakan bahwa di wilayah cakrawala kosmik, waktu secara efektif “berhenti”, sehingga tidak ada lagi perbedaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kondisi ini ia tafsirkan sebagai bentuk keabadian, yang menurutnya selaras dengan konsep religius tentang surga.

Menurut Guillen, meskipun manusia tidak dapat menjangkaunya secara fisik, wilayah tersebut tetap bisa “dihuni” oleh entitas non-material seperti cahaya atau bentuk eksistensi lain yang melampaui batas fisik manusia.

Bantahan dari Komunitas Ilmiah

Meski memiliki latar belakang akademis yang kuat, klaim Guillen menuai kritik dari komunitas ilmiah. Para kosmolog menegaskan bahwa interpretasi tersebut tidak sesuai dengan pemahaman ilmiah modern.

Baca Juga:  Mengenal Tagatose, “Gula Masa Depan” yang Aman untuk Gigi dan Penderita Diabetes

Dalam kosmologi, fenomena yang disebut Guillen sebagai “waktu berhenti” sebenarnya adalah efek redshift, yakni peristiwa di mana cahaya dari objek yang sangat jauh tampak melambat karena panjang gelombangnya teregang akibat ekspansi alam semesta. Hal ini tidak berarti waktu benar-benar berhenti di lokasi tersebut.

Selain itu, para ilmuwan juga menekankan bahwa cakrawala kosmik bukanlah sebuah titik tetap di alam semesta. Batas tersebut bersifat relatif terhadap posisi pengamat. Artinya, setiap pengamat di lokasi berbeda akan memiliki cakrawala kosmiknya masing-masing.

Dengan demikian, klaim tentang “lokasi fisik surga” sejauh 439 sekstiliun kilometer dianggap lebih sebagai spekulasi filosofis yang menggabungkan sains dan keyakinan, bukan sebagai penemuan ilmiah yang dapat diverifikasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *