INTERNASIONAL

Iran Berhasil Lumpuhkan Starlink: Jamming Militer Guncang Narasi “Internet Tanpa Sensor”

1
×

Iran Berhasil Lumpuhkan Starlink: Jamming Militer Guncang Narasi “Internet Tanpa Sensor”

Sebarkan artikel ini
Iran Lumpuhkan Starlink dengan Jammer Militer di Tengah Blackout Digital!
Iran Lumpuhkan Starlink dengan Jammer Militer di Tengah Blackout Digital!

Media90 – Setelah bertahun-tahun dipandang sebagai teknologi yang “nyaris mustahil diblokir” oleh rezim otoriter, layanan internet satelit Starlink milik Elon Musk akhirnya menghadapi ujian terbesar dalam sejarah operasionalnya. Laporan terbaru CNBC Indonesia menyebut bahwa Pemerintah Iran telah sukses memblokir Starlink secara nasional — dan yang dilakukan bukan sekadar aksi administratif, melainkan operasi teknis tingkat tinggi menggunakan jammer militer.

Langkah ini terjadi di tengah gelombang kerusuhan besar yang melanda Iran pada awal Januari 2026. Protes yang bermula dari ketidakpuasan terhadap otoritas Teheran berubah menjadi aksi pembakaran tempat ibadah, gedung pemerintahan, hingga bentrokan antarwarga. Dalam situasi tersebut, Starlink — yang selama ini menjadi “urat nadi” komunikasi aktivis dan warga di wilayah terpencil — mendadak tak berfungsi.

Bagaimana Jammer Iran Melumpuhkan Starlink?

Selama ini Starlink dianggap sulit dibungkam karena tidak bergantung pada infrastruktur fisik dalam negeri seperti kabel serat optik atau menara BTS. Semua akses data langsung dipancarkan dari satelit ke dish penerima pengguna, melewati sensor ketat pemerintah.

Baca Juga:  Elon Musk Resmi Luncurkan Starlink di Indonesia: Uji Coba Merambah ke Pulau Aru

Namun keunggulan itu ternyata dapat dipatahkan melalui operasi peperangan elektronik.

Militer Iran dilaporkan mengerahkan unit electronic warfare (EW) dengan perangkat pengganggu frekuensi berdaya tinggi. Prinsip kerjanya adalah membanjiri frekuensi downlink Starlink dengan electronic noise, sehingga dish pengguna tidak dapat membedakan mana sinyal asli dari satelit dan mana gangguan.

Laporan dari lembaga pemantau internet NetBlocks menunjukkan konektivitas Starlink di Iran anjlok hingga hanya 1% dari kondisi normal. Di kota-kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Mashhad, koneksi bahkan padam total selama lebih dari 60 jam.

Motif Politik: Meredam “Revolusi Digital”

Pemblokiran Starlink bukan terjadi di ruang hampa. Dalam satu tahun terakhir, ribuan perangkat Starlink diselundupkan ke Iran meski SpaceX tidak memiliki lisensi operasional di negara tersebut. Perangkat itu digunakan aktivis dan warga untuk menembus “Intranet Nasional” Iran — sebuah sistem internet dengan sensor ketat.

Baca Juga:  Industri Baterai China Menjadi Mesin Uang Baru Energi Global, Ekspor Tembus US$65 Miliar

Starlink pun berubah menjadi simbol perlawanan digital, menyediakan akses komunikasi lintas wilayah dan lintas negara tanpa bisa diputus lewat saklar.

Bagi pemerintah Iran, hal ini menjadi ancaman strategis. Dengan melumpuhkan Starlink, Teheran berusaha:

  • Memutus arus informasi dari Iran ke dunia internasional

  • Menghambat koordinasi protes di lapangan

  • Mengendalikan narasi atas kerusuhan yang terus meluas

Situasi ini menciptakan “kegelapan digital”, di mana verifikasi atas insiden-insiden kekerasan menjadi hampir mustahil dilakukan.

Analis keamanan menilai bahwa keberhasilan Iran ini bersifat preseden global. Negara-negara dengan tensi politik tinggi terhadap platform milik Elon Musk akan mengamati langkah ini sebagai model baru sensor era satelit.

Respons SpaceX dan Dampak Global

Hingga berita ini diturunkan, Elon Musk maupun SpaceX belum memberikan penjelasan teknis mengenai strategi mereka menghadapi jamming tersebut.

Dalam kasus Ukraina, SpaceX pernah melakukan pembaruan perangkat lunak yang membuat sistem Starlink lebih tahan jamming dari operasi Rusia — sebuah langkah yang kala itu dinilai cepat dan efektif.

Namun konteks Iran berbeda:

  • Intensitas jamming jauh lebih besar

  • Targetnya populasi sipil, bukan zona perang terbatas

  • Pemerintah memiliki kendali penuh atas spektrum nasional

Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai masa depan internet satelit di zona konflik. Jika satu negara dapat memblokir Starlink dengan teknologi peperangan elektronik yang relatif terjangkau, maka narasi “Starlink kebal sensor” berpotensi runtuh.

Kondisi ini juga menjadi catatan penting bagi investor menjelang rencana IPO SpaceX tahun 2026.

Era Baru: Negara vs Perusahaan Antariksa

Pemblokiran Starlink di Iran menegaskan satu hal: tidak ada teknologi yang benar-benar kebal terhadap intervensi negara. Meskipun satelit berada ribuan kilometer di atas bumi, sinyalnya tetap harus “mendarat” pada perangkat yang berada dalam yurisdiksi suatu negara.

Peristiwa ini sekaligus menandai awal dari perlombaan senjata elektronik antara:

  • Perusahaan teknologi luar angkasa swasta

  • Negara berdaulat dengan infrastruktur militer

Kini dunia menunggu dua kemungkinan:

  1. SpaceX merilis teknologi anti-jamming generasi baru, atau

  2. Iran menjadi negara pertama yang berhasil mematahkan dominasi internet satelit Elon Musk

Bagi warga Iran, hilangnya akses Starlink bukan sekadar hilangnya konektivitas, tetapi hilangnya salah satu jendela terakhir menuju dunia bebas ketika krisis politik semakin memburuk.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *