Media90 – Dunia perfilman Indonesia kembali berduka. Salah satu sutradara produktif dan penuh warna, Nayato Fio Nuala, dikabarkan meninggal dunia pada Sabtu pagi, 18 April 2026.
Informasi kepergian sineas tersebut dikonfirmasi melalui unggahan akun @movreview, yang menyebut kabar duka ini telah dibenarkan oleh rekan terdekatnya. Nayato dikenal sebagai sutradara dengan gaya khas yang berbeda dari arus utama perfilman Indonesia.
Lahir pada tahun 1968, Nayato telah lama berjuang melawan penyakit, meski penyebab pasti meninggalnya belum diumumkan secara resmi. Kepergiannya menjadi kehilangan besar, khususnya bagi penggemar film horor dan drama remaja era 2000-an.
Dalam perjalanan kariernya, Nayato dikenal menggunakan beberapa nama samaran seperti Koya Pagayo, Pingkan Utari, hingga Ian Jacobs. Penggunaan berbagai nama ini menjadi ciri uniknya, seiring produktivitas tinggi dalam menghasilkan banyak film dalam waktu relatif singkat.
Daftar Karya yang Membekas di Layar Lebar
Sejumlah karya Nayato pernah meramaikan industri film Indonesia dan memiliki basis penggemar tersendiri, di antaranya:
- Ada Hantu di Sekolah! (2004)
- Cinta Pertama (2006)
- Gaby dan Lagunya (2010)
- Hantu Jeruk Purut
Film-film tersebut dikenal dengan pendekatan cerita yang sederhana namun dekat dengan kehidupan penonton, sehingga mudah diterima oleh pasar.
Nama Nayato juga tidak lepas dari kontroversi, terutama melalui film Ekskul. Film ini sempat memenangkan penghargaan Film Terbaik dan Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2006. Namun, kemenangan tersebut menuai kritik karena adanya penggunaan elemen dari film luar negeri, hingga akhirnya penghargaan tersebut dicabut.
Meski telah berpulang, karya Nayato belum sepenuhnya berhenti. Salah satu film terbarunya yang masih menunggu jadwal tayang adalah Hutan Terlarang, yang dibintangi oleh Dimas Beck, Michelle Joan, Ricky Cuaca, dan Sahira Anjani. Film ini telah dinantikan para pecinta genre horor.
Rencananya, jenazah almarhum akan disemayamkan di rumah duka Boen Tek Bio sebelum dimakamkan secara layak.
Kepergian Nayato Fio Nuala meninggalkan jejak panjang dalam industri film Indonesia—baik melalui karya, produktivitas, maupun kontroversi yang mewarnai perjalanan kariernya.












