Media90.id – Fenomena penggunaan kecerdasan buatan atau AI kini tidak lagi terbatas pada dunia kerja atau hiburan. Di China, sebuah kasus unik menjadi viral setelah seorang anak muda menciptakan sosok profesor virtual berbasis AI untuk menghadapi tekanan dan nasihat dari orang tuanya.
Alih-alih berdebat secara langsung, pemuda tersebut memilih membangun karakter digital bernama “Pak Zhao”, sosok pria paruh baya dengan aura akademisi yang tenang dan berwibawa. Karakter ini kemudian menjadi tokoh utama dalam akun media sosial bertajuk “Lao Zhao jiang dao li” atau “Pak Zhao bicara masuk akal”. Ide ini langsung menyita perhatian publik karena dianggap mencerminkan benturan cara pandang antara generasi muda dan pola pikir lama di masyarakat.
Dibuat Karena Pendapat Anak Sering Tidak Didengar
Pembuat akun tersebut mengaku bahwa ide menciptakan “Pak Zhao” muncul karena pendapat pribadinya kerap diabaikan oleh orang tuanya. Ia merasa bahwa nasihat yang datang dari sosok berwibawa dan berpendidikan tinggi justru lebih mudah diterima dibandingkan jika disampaikan oleh anak sendiri.
Situasi ini diperparah dengan kebiasaan orang tua yang sering mengirimkan artikel berisi “nasihat kehidupan” yang menurutnya sudah tidak relevan dengan kondisi modern.
Di China, jenis konten seperti ini dikenal dengan istilah “toxic chicken soup”, yaitu nasihat yang terdengar bijak tetapi sebenarnya mengandung tekanan sosial, pandangan lama, atau norma yang tidak selalu sesuai dengan realitas masa kini.
Melalui “Pak Zhao”, ia mencoba membalik logika tersebut: jika orang tua lebih percaya profesor, maka ia menciptakan “profesor versinya sendiri” menggunakan bantuan AI.
Sosok “Pak Zhao” Dibuat Sangat Meyakinkan
Agar terlihat autentik, karakter “Pak Zhao” dirancang dengan detail yang cukup meyakinkan. Dalam profilnya, ia digambarkan sebagai pensiunan profesor dari Chongqing yang telah meneliti hubungan orang tua dan anak selama lebih dari 30 tahun.
Tidak hanya itu, ia juga diklaim pernah menempuh pendidikan di Singapura serta aktif menulis berbagai karya ilmiah. Seluruh latar belakang tersebut sebenarnya sepenuhnya fiktif.
Untuk memperkuat kesan realistis, kreatornya memanfaatkan teknologi AI generatif untuk membuat video “Pak Zhao” yang berbicara layaknya dosen atau motivator profesional. Dalam waktu singkat, akun tersebut bahkan telah menerbitkan sekitar 18 artikel yang membahas berbagai isu keluarga dan tekanan sosial yang dihadapi anak muda.
Bahas Isu Tekanan Hidup Anak Muda
Konten yang dibahas “Pak Zhao” ternyata sangat relevan dengan kehidupan generasi muda di China. Topik yang diangkat mencakup tekanan untuk segera menikah, tuntutan memiliki pekerjaan mapan, hingga campur tangan orang tua dalam menentukan karier anak.
Salah satu isu yang sering dibahas adalah anggapan bahwa menjadi pegawai negeri merupakan satu-satunya jalan menuju kesuksesan dan stabilitas hidup. Selain itu, terdapat pula kritik terhadap pandangan tradisional yang menilai perempuan harus menikah di usia tertentu atau wajib memiliki kemampuan domestik agar dianggap berhasil.
Karena disampaikan melalui figur “profesor” yang terlihat kredibel, pesan-pesan tersebut justru lebih mudah diterima oleh sebagian orang tua dibandingkan jika disampaikan langsung oleh anak mereka sendiri.
Netizen Ikut Membentuk Kredibilitas
Menariknya, popularitas “Pak Zhao” juga didorong oleh partisipasi warganet. Beberapa pengguna internet turut membantu membangun narasi seolah-olah karakter tersebut benar-benar nyata.
Ada yang mengaku pernah menghadiri seminar “Pak Zhao” di luar negeri, meskipun klaim tersebut tidak dapat diverifikasi. Bahkan, sebagian netizen menyebut bahwa hubungan keluarga mereka membaik setelah mengikuti nasihat sang profesor.
Lebih jauh lagi, sejumlah pengguna membuat foto-foto dokumentasi seminar fiktif menggunakan AI untuk memperkuat citra akademisi tersebut. Kombinasi ini membuat banyak orang semakin percaya bahwa “Pak Zhao” adalah sosok asli.
Cara Baru Menyampaikan Kritik Sosial
Fenomena ini kemudian memicu diskusi luas di media sosial China. Banyak pihak menilai bahwa strategi tersebut menunjukkan cara baru generasi muda dalam menghadapi tekanan sosial dan perbedaan nilai dengan generasi sebelumnya.
Alih-alih melakukan konfrontasi langsung, mereka memanfaatkan teknologi AI untuk membangun narasi yang lebih mudah diterima oleh pihak yang lebih konservatif.
Di sisi lain, kasus “Pak Zhao” juga menunjukkan bagaimana AI kini tidak hanya berfungsi sebagai alat produktivitas atau hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi sosial yang mampu membentuk persepsi publik.
Meski terdengar kreatif dan menghibur, fenomena ini sekaligus menggambarkan adanya kesenjangan pemahaman antara generasi muda dan orang tua di era digital, serta bagaimana teknologi mulai menjadi jembatan—atau bahkan “perantara baru”—dalam percakapan keluarga modern.














