NASIONAL

4 Fakta Bentrokan di Adonara NTT yang Menewaskan Sejumlah Warga

Luluk RJMP
18
×

4 Fakta Bentrokan di Adonara NTT yang Menewaskan Sejumlah Warga

Sebarkan artikel ini
Empat Fakta Bentrokan Berdarah di Adonara NTT Begini Kronologinya

Media90.id – Bentrokan antara warga dua desa di Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali pecah pada Sabtu (18/7/2026). Konflik yang melibatkan warga Desa Narasaosina dan Desa Waiburak tersebut mengakibatkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia, lima orang mengalami luka ringan, serta puluhan rumah warga hangus terbakar.

Konflik antardua desa ini diketahui telah berlangsung selama bertahun-tahun dan dipicu sengketa kepemilikan tanah adat yang hingga kini belum menemukan penyelesaian. Meski sebelumnya telah dimediasi oleh Pemerintah Kabupaten Flores Timur, bentrokan kembali terjadi.

Ads
close ads

Sebelumnya, pada 9 Mei 2026, konflik serupa juga sempat memanas. Saat itu belasan rumah dilaporkan terbakar dan tujuh warga terkena tembakan hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Berikut empat fakta bentrokan di Adonara Timur:

1. Tiga Warga Meninggal Dunia

Bentrokan kali ini menelan tiga korban jiwa. Dua korban berasal dari Desa Narasaosina dan satu korban lainnya berasal dari Desa Waiburak.

Wakil Bupati Flores Timur, Ignasius Boli Uran, mengatakan dua korban telah dimakamkan pada Sabtu (18/7), sedangkan satu korban lainnya yang baru berhasil dievakuasi dijadwalkan dimakamkan pada Minggu (19/7/2026).

“Korban tiga orang meninggal dunia, dua dari Lewonara (Desa Narasaosina) dan satu dari Belle (Desa Waiburak),” ujar Ignasius.

2. Sebanyak 20 Rumah Hangus Terbakar

Selain menimbulkan korban jiwa, bentrokan juga menyebabkan kerusakan cukup parah. Sedikitnya 20 unit rumah warga dilaporkan terbakar, sementara lima orang mengalami luka ringan.

Kasi Humas Polres Flores Timur, AKP Eliezer A. Kalelado, mengatakan pihak kepolisian masih terus melakukan pendataan terhadap jumlah korban maupun kerusakan yang ditimbulkan akibat bentrokan tersebut.

“Tiga orang meninggal dunia, lima orang luka ringan, dan 20 unit rumah terbakar,” kata Eliezer.

3. Guru dan Siswa Dievakuasi Melalui Jalur Laut

Dampak bentrokan juga dirasakan dunia pendidikan. Sebanyak sembilan siswa dan dua guru SMP Negeri 1 Adonara Timur terpaksa dievakuasi menggunakan jalur laut karena lokasi perkemahan mereka berada di sekitar wilayah konflik.

Guru SMPN 1 Adonara Timur, Muhammad Sole Kadir, mengatakan para siswa sebenarnya dijadwalkan mengikuti kegiatan kemah hingga Minggu (19/7). Namun, kegiatan tersebut dihentikan lebih awal demi alasan keselamatan.

Para siswa yang berasal dari wilayah terdampak kemudian dipulangkan menggunakan sampan kayu menuju Desa Waiburak.

“Karena konflik, semua siswa dipulangkan dari perkemahan ke rumah. Mereka yang berasal dari wilayah konflik dipulangkan lewat laut,” ujarnya.

4. Personel Gabungan TNI-Polri Masih Disiagakan

Untuk mengantisipasi bentrokan susulan, aparat gabungan TNI dan Polri masih disiagakan di wilayah Adonara Timur. Pengamanan dilakukan hingga situasi benar-benar dinyatakan aman dan kondusif.

AKP Eliezer A. Kalelado memastikan aparat keamanan terus melakukan penjagaan guna memberikan rasa aman kepada masyarakat.

“Kami memastikan personel gabungan TNI-Polri tetap melaksanakan penjagaan di wilayah Adonara Timur untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya, serta menyerahkan penyelesaian konflik kepada aparat penegak hukum.

“Mari bersama menjaga persaudaraan, menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin, dan mempercayakan penanganannya kepada Kepolisian sehingga situasi di Adonara Timur tetap aman, damai, dan kondusif,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *