Media90.id – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Selasa, 28 Juli 2026 pukul 09.23 WIB. Aktivitas vulkanik tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 800 meter di atas puncak gunung api yang berada di wilayah Jawa Timur.
Berdasarkan laporan pengamatan, kolom letusan Gunung Semeru teramati mencapai ketinggian sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Erupsi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas Gunung Semeru masih menunjukkan adanya pelepasan material vulkanik. Masyarakat yang berada di sekitar kawasan gunung api diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi rekomendasi dari pihak berwenang.
Kolom Abu Gunung Semeru Bergerak ke Tenggara dan Selatan
Petugas pengamatan Gunung Semeru melaporkan, kolom abu hasil erupsi berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal.
Material abu vulkanik tersebut bergerak ke arah tenggara dan selatan mengikuti kondisi angin saat kejadian berlangsung.
Selain melalui pengamatan visual, aktivitas erupsi juga tercatat melalui alat pemantauan kegempaan yang terpasang di kawasan Gunung Semeru.
Hasil pencatatan menunjukkan letusan memiliki amplitudo maksimum sebesar 22 milimeter dengan durasi sekitar 115 detik.
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Semeru masih berlangsung dan membutuhkan pemantauan secara berkelanjutan.
Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya Gunung Semeru
Pasca erupsi, masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas di sejumlah wilayah yang masuk dalam zona rawan bencana.
Salah satu area yang harus dihindari adalah sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi.
Selain itu, masyarakat juga dilarang melakukan aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan.
Area tersebut berpotensi terdampak awan panas guguran maupun aliran lahar yang dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
Petugas juga mengingatkan warga agar tidak mendekati kawah atau puncak gunung dalam radius 5 kilometer karena masih terdapat potensi lontaran material pijar saat terjadi erupsi.
Waspadai Ancaman Awan Panas dan Lahar
Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya vulkanik.
Ancaman yang perlu diperhatikan meliputi awan panas, guguran lava, hingga aliran lahar yang dapat bergerak melalui sungai maupun lembah yang berhulu dari Gunung Semeru.
Beberapa wilayah yang menjadi perhatian antara lain:
- Besuk Kobokan
- Besuk Bang
- Besuk Kembar
- Besuk Sat
- Anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan
Petugas kembali menegaskan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sejauh 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
“Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).”
Masyarakat Diminta Ikuti Informasi Resmi
Masyarakat diimbau untuk terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru melalui informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Geologi.
Warga juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan maupun kesalahpahaman.
Apabila terjadi perubahan aktivitas vulkanik, pemerintah akan menyampaikan pembaruan melalui kanal resmi kepada masyarakat.
Kesimpulan
Gunung Semeru mengalami erupsi pada Selasa, 28 Juli 2026 dengan tinggi kolom abu mencapai sekitar 800 meter di atas puncak.
Aktivitas tersebut masih terus dipantau oleh petugas melalui pengamatan visual maupun alat kegempaan. Masyarakat sekitar diminta menjauhi zona bahaya, terutama sektor tenggara Besuk Kobokan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar.
Informasi terbaru mengenai kondisi Gunung Semeru diharapkan selalu menjadi acuan utama masyarakat dalam mengambil langkah antisipasi.
Catatan Redaksi
Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi aktivitas Gunung Semeru pada Selasa, 28 Juli 2026.
Informasi mengenai aktivitas gunung api bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu sesuai hasil pemantauan terbaru.
Masyarakat diimbau selalu mengikuti informasi resmi dari PVMBG, Badan Geologi, dan instansi terkait sebagai sumber utama dalam mengambil keputusan menghadapi potensi bencana.














