Media90.id – Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik dengan mengalami erupsi pada Rabu, 29 Juli 2026 pagi. Erupsi tersebut terjadi sekitar pukul 05.45 WIB dan terekam oleh alat pemantauan gunung api.
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Semeru, tinggi kolom erupsi tidak dapat diamati karena kondisi pengamatan saat kejadian. Namun, aktivitas letusan berhasil tercatat melalui seismograf dengan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter.
Erupsi tersebut berlangsung selama 168 detik. Hingga laporan aktivitas diterbitkan, belum terdapat informasi mengenai dampak langsung erupsi terhadap permukiman warga di sekitar kawasan Gunung Semeru.
Masyarakat Diminta Jauhi Kawasan Rawan Erupsi
Pascaerupsi, masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar Gunung Semeru diminta tetap meningkatkan kewaspadaan serta mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan oleh pihak berwenang.
Salah satu wilayah yang harus dihindari adalah sektor tenggara Gunung Semeru, khususnya sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak gunung.
Selain itu, warga juga dilarang melakukan aktivitas di sekitar bantaran sungai dengan jarak 500 meter dari tepi aliran Besuk Kobokan. Area tersebut berpotensi terdampak perluasan awan panas maupun aliran lahar yang dapat mencapai hingga 17 kilometer dari pusat erupsi.
Radius 5 Kilometer dari Puncak Semeru Masih Berbahaya
Tidak hanya kawasan sungai, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru.
Wilayah tersebut masih memiliki potensi bahaya akibat lontaran material vulkanik, termasuk batu pijar yang dapat keluar saat terjadi erupsi.
Petugas mengingatkan agar masyarakat, pendaki, maupun wisatawan tidak memasuki kawasan terlarang demi menghindari risiko keselamatan akibat aktivitas Gunung Semeru yang masih berlangsung.
Waspadai Ancaman Awan Panas hingga Banjir Lahar
Selain erupsi, masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru juga diminta mewaspadai potensi bahaya sekunder.
Ancaman yang perlu diperhatikan meliputi awan panas guguran, guguran lava, serta banjir lahar yang dapat terjadi terutama saat hujan turun di kawasan puncak.
Beberapa aliran sungai yang berpotensi terdampak antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta sejumlah anak sungai yang terhubung dengan aliran Besuk Kobokan.
Dalam rekomendasi aktivitas Gunung Semeru disebutkan:
“Tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi).”
Selain itu, masyarakat juga diingatkan:
“Tidak beraktivitas dalam radius 5 Km dari kawah/puncak Gunung Api Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar).”
Masyarakat Diminta Ikuti Informasi Resmi
Masyarakat di sekitar Gunung Semeru diharapkan terus mengikuti perkembangan informasi dari instansi resmi terkait aktivitas vulkanik terbaru.
Warga juga diminta segera mematuhi arahan petugas apabila terjadi peningkatan aktivitas gunung api atau perubahan status kebencanaan.
Informasi mengenai aktivitas Gunung Semeru dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan terbaru dari otoritas terkait. Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan hanya mengacu pada sumber resmi.
Catatan Redaksi:
Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi aktivitas Gunung Semeru pada 29 Juli 2026. Data mengenai waktu erupsi, durasi aktivitas, maupun rekomendasi keselamatan dapat diperbarui sesuai hasil pemantauan terbaru dari instansi berwenang.














