Media90 – Sebuah unggahan di media sosial memicu gelombang kritik setelah memperlihatkan pola konsumsi yang tidak biasa pada seorang balita. Konten tersebut ramai diperbincangkan di berbagai platform, termasuk Instagram, dan langsung menarik perhatian publik.
Dalam unggahan yang beredar, seorang ibu memperlihatkan anaknya mengonsumsi kopi instan serta susu kental manis (SKM). Hal ini memancing kekhawatiran luas, terutama terkait dampaknya terhadap kesehatan anak.
Perhatian warganet tertuju pada foto seorang balita yang memegang botol berisi cairan berwarna kecokelatan. Alih-alih susu, minuman tersebut diduga merupakan kopi yang dikonsumsi secara rutin.
Pemilik akun, Raina Mistur, mengungkapkan bahwa anaknya memang tidak menyukai susu.
“Emang boleh… balita minum kopi setiap hari moms? Udah berbagai merek susu dicoba tetap gak mau minum susu, malah minta kopi,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Tak hanya itu, unggahan lain juga memperlihatkan banyaknya kemasan Susu Kental Manis di sekitar anak tersebut. Disebutkan bahwa produk tersebut bisa habis dalam satu hari, yang semakin memicu kekhawatiran soal asupan nutrisi sang balita.
Alih-alih mendapat dukungan, unggahan tersebut justru menuai respons keras dari warganet. Banyak yang menilai tindakan tersebut berpotensi membahayakan kesehatan anak, terutama karena kandungan gula tinggi dalam SKM dan kafein dalam kopi yang tidak sesuai untuk usia balita.
Komentar bernada kritik pun membanjiri unggahan tersebut, mencerminkan tingginya kepedulian publik terhadap isu kesehatan anak. Sejumlah warganet juga mempertanyakan keputusan orang tua dalam memberikan asupan yang tidak direkomendasikan bagi anak usia dini.
Secara medis, pemberian SKM dan kopi pada balita memang tidak dianjurkan. SKM memiliki kandungan gula tinggi dan tidak dapat menggantikan fungsi susu untuk pertumbuhan. Sementara itu, kopi mengandung kafein yang dapat berdampak negatif pada sistem saraf dan perkembangan tubuh anak.
Hingga kini, konten tersebut masih menjadi perbincangan hangat. Banyak pihak berharap adanya edukasi lebih luas dari tenaga kesehatan dan lembaga terkait agar masyarakat semakin memahami pentingnya pola konsumsi yang tepat bagi anak-anak.














