Media90 – Proyek ambisius XPeng dalam dunia robotika kini bukan lagi sekadar konsep futuristik. Perusahaan mobilitas berbasis AI asal China tersebut tengah serius mengembangkan robot humanoid bernama Iron, yang dirancang untuk mendekati kemampuan dan perilaku manusia.
Inisiatif ini menjadi bagian dari ekspansi besar Xpeng di luar industri otomotif, menuju ekosistem Physical AI yang menggabungkan kecerdasan buatan, robotika, dan mobilitas dalam satu kesatuan teknologi.
Mencari Batas antara Manusia dan Mesin
Dalam seminar XPENG Physical AI ‘Immersive’ China Tour 2026, LC Mi selaku Vice President Robotics Center XPeng menegaskan bahwa fokus utama perusahaan bukan hanya membangun robot, tetapi juga memahami batas antara manusia dan mesin.
“Konsep terpenting yang kami miliki saat ini adalah mencoba mencari tahu batasan antara manusia dan mesin. Ini terdengar filosofis, tetapi itulah yang mendorong strategi kami,” ujar LC Mi di Beijing, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, pendekatan ini menjadi fondasi penting dalam pengembangan robot humanoid agar tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga relevan secara sosial dan psikologis.
Reaksi Publik: Sulit Membedakan Robot dan Manusia
Salah satu hal yang mengejutkan tim Xpeng adalah respons publik terhadap robot yang mereka kembangkan. Banyak pengguna internet bahkan meragukan apakah robot tersebut benar-benar mesin atau manusia sungguhan.
“Sekitar 60 hingga 70 persen populasi di internet meragukan bahwa itu adalah manusia di dalamnya. Ini adalah sinyal bahwa kami berada di puncak kurva robot humanoid,” jelasnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi robotika Xpeng telah mencapai titik kemiripan yang sangat tinggi dengan manusia.
Tantangan Uncanny Valley dalam Desain Robot
Namun, semakin mirip robot dengan manusia, semakin besar pula tantangannya. LC Mi menyoroti fenomena uncanny valley, yaitu kondisi ketika robot yang terlalu menyerupai manusia justru menimbulkan rasa tidak nyaman.
Karena itu, XPeng memilih pendekatan desain yang lebih hati-hati, termasuk tidak sepenuhnya meniru wajah manusia secara realistis.
Pendekatan ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara teknologi, kenyamanan emosional, dan penerimaan publik.
Robot Humanoid dengan Beragam Gender dan Identitas
Dalam pengembangannya, robot Iron dibuat dalam berbagai bentuk, warna, hingga gender sebagai bagian dari eksplorasi teknologi.
LC Mi menjelaskan bahwa variasi ini bukan sekadar estetika, melainkan upaya untuk mendorong batas kemampuan robotika.
“Kami memiliki robot dengan berbagai warna dan bentuk. Kami juga membuat robot laki-laki dan perempuan sebagai tantangan untuk melihat sejauh mana kami bisa membangun representasi manusia,” katanya.
Ia bahkan menyebut bahwa respons publik terhadap robot perempuan lebih tinggi dibandingkan versi lainnya, karena ekspektasi visual manusia yang lebih kompleks.
Robot Iron untuk Industri dan Kehidupan Nyata
Pada tahap awal, robot humanoid Iron akan difokuskan untuk penggunaan di berbagai sektor, seperti:
- Ritel
- Layanan pelanggan
- Lingkungan industri dan pabrik
XPeng juga berencana menggunakan robot ini di fasilitas produksi mereka sendiri untuk proses pengujian dan pengembangan berkelanjutan.
“Kami membangun robot yang generik, tetapi kami menempatkannya di lingkungan nyata untuk tujuan iterasi,” ujar LC Mi.
Menuju Produksi Massal
Menurut rencana, robot humanoid Iron akan memasuki tahap produksi massal pada akhir tahun ini. Meski begitu, XPeng belum mengumumkan harga resmi karena masih dalam tahap finalisasi pengembangan.
Langkah ini menegaskan ambisi besar Xpeng dalam memperluas perannya dari produsen kendaraan listrik menjadi pemain utama di industri robotika global.
Kesimpulan
Pengembangan robot humanoid Iron menunjukkan bahwa XPeng tidak hanya berfokus pada mobilitas darat, tetapi juga masa depan interaksi manusia dengan mesin.
Dengan pendekatan yang menggabungkan teknologi, filosofi, dan eksperimen sosial, Xpeng tengah membangun era baru di mana batas antara manusia dan robot semakin kabur—dan mungkin, suatu hari nanti, hampir tak terlihat lagi.














