Media90 – Semangat internasionalisasi semakin menguat di tengah momentum Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama Republik Indonesia, Sahiron, menegaskan bahwa seluruh PTKIN perlu memperkuat konsolidasi untuk menyongsong agenda besar menjadikan Indonesia sebagai pusat studi Islam dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat koordinasi PMB PTKIN yang digelar di Jakarta, Selasa (12/5/2026). Dalam forum itu, Sahiron memberikan apresiasi kepada para rektor dan tim tata kelola PTKIN atas kerja keras yang telah dilakukan, sekaligus mengingatkan bahwa tantangan ke depan kini telah bergeser menuju rekognisi global.
Menurutnya, internasionalisasi pendidikan tinggi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan mandat langsung dari Presiden Republik Indonesia. Pemerintah bahkan menargetkan mampu menarik hingga 100.000 mahasiswa asing secara nasional.
“Saat ini, mahasiswa asing di lingkungan PTKIN tercatat sekitar 1.200 orang. Kita ingin angka ini terus meningkat melalui sinergi antara Kementerian Agama, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Keuangan,” ujarnya.
Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah tengah menyiapkan skema beasiswa prestisius bagi mahasiswa asing. Skema ini dirancang dengan mengadopsi model lembaga internasional seperti DAAD, AMINEF, dan British Council.
Ketua Forum Rektor PTKIN, Masnun Tahir, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah strategis tersebut. Ia menegaskan bahwa internasionalisasi tidak boleh berhenti pada tataran seremonial, melainkan harus diwujudkan melalui program konkret yang berdampak langsung.
“Kerja sama internasional harus ditransformasikan menjadi program nyata. Skema seperti double degree S3, joint publication, professor exchange, dan summer course harus menjadi instrumen strategis untuk membangun ekosistem akademik yang kompetitif,” tegasnya.
Ia juga menambahkan bahwa PMB merupakan gerbang awal dalam mencetak generasi unggul yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas dan wawasan global.
Senada dengan itu, Ketua Panitia Nasional PMB PTKIN 2026, Abd. Aziz, menekankan pentingnya setiap kampus menonjolkan keunikan atau distingsi program studi masing-masing guna menarik minat calon mahasiswa, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Setiap prodi harus memiliki tanda pengenal yang kuat agar masyarakat mengetahui keunggulan PTKIN dibandingkan perguruan tinggi lainnya,” ujarnya.
Ia juga memastikan bahwa proses seleksi PMB tahun ini akan mengedepankan prinsip akuntabilitas, transparansi, objektivitas, dan keadilan akses sebagai fondasi utama pelaksanaannya.
Sementara itu, Rektor Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, Wan Jamaluddin, yang turut hadir dalam rapat koordinasi tersebut menyatakan kesiapan mendukung langkah Kementerian Agama dalam mendorong internasionalisasi PTKIN.
Menurutnya, setiap PTKIN memiliki keunggulan dan distingsi yang dapat menjadi daya tarik bagi mahasiswa internasional untuk belajar di Indonesia, khususnya dalam integrasi keilmuan berbasis nilai-nilai keislaman.
Ia mencontohkan, UIN Raden Intan Lampung memiliki fokus pada pengembangan kampus hijau berkelanjutan serta penguatan kearifan lokal.
“Integrasi keilmuan dan konsep green campus menjadi visi besar kampus. Kami juga mengembangkan penerjemahan Al-Qur’an berbahasa Lampung serta mengangkat nilai-nilai kepahlawanan lokal sebagai bagian dari penguatan budaya,” pungkasnya.
Langkah strategis ini diharapkan mampu memperkuat posisi PTKIN di kancah global, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai destinasi utama studi Islam yang inklusif, kompetitif, dan berdaya saing internasional.














