Media90 – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini dilaporkan mengalami erupsi pada Sabtu pagi pukul 05.26 WIB.
Letusan tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 700 meter di atas puncak, menandakan aktivitas vulkanik masih cukup intens dan perlu diwaspadai oleh masyarakat di sekitarnya.
Kolom Abu Terpantau ke Barat Daya
Berdasarkan hasil pengamatan visual, kolom abu berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang. Sebaran abu mengarah ke barat daya mengikuti arah angin saat erupsi berlangsung.
Jika diukur dari permukaan laut, tinggi kolom letusan mencapai kurang lebih 4.376 meter. Hingga saat ini, aktivitas erupsi masih dilaporkan berlangsung.
Zona Berbahaya Meluas, Ini Area yang Harus Dihindari
Pihak berwenang mengingatkan bahwa potensi bahaya tidak hanya berada di sekitar kawah, tetapi juga meluas ke jalur aliran sungai yang berhulu dari puncak Semeru.
- Larangan Aktivitas di Besuk Kobokan
Masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan hingga radius 13 km dari puncak. Bahkan di luar radius tersebut, area sejauh 500 meter dari tepi sungai juga harus dihindari karena berpotensi terdampak awan panas dan aliran lahar hingga 17 km. - Radius 5 Km dari Puncak Harus Steril
Wilayah dalam radius 5 kilometer dari kawah merupakan zona rawan lontaran material pijar. Segala bentuk aktivitas di area ini sangat berisiko dan harus dihentikan sementara. - Waspadai Jalur Sungai dan Lembah
Potensi bahaya lain seperti awan panas guguran, lava, dan lahar dapat mengalir melalui sejumlah sungai yang berhulu di puncak. Wilayah yang perlu diwaspadai meliputi:
- Besuk Kobokan
- Besuk Bang
- Besuk Kembar
- Besuk Sat
Selain itu, anak-anak sungai dari Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar.
Ancaman Nyata: Awan Panas hingga Lahar
Gunung Semeru dikenal memiliki karakter erupsi yang dapat memicu awan panas guguran secara tiba-tiba. Selain itu, hujan yang turun di kawasan puncak dapat memicu aliran lahar yang membawa material vulkanik berbahaya.
Kondisi ini membuat masyarakat di sekitar lereng gunung harus selalu siaga, terutama saat cuaca buruk atau hujan deras.
Dengan aktivitas yang masih berlangsung, masyarakat diimbau untuk terus mengikuti informasi resmi dari pihak berwenang. Pembaruan informasi secara berkala sangat penting untuk menghindari risiko yang tidak diinginkan.














