Media90 – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap konsumsi gula kini semakin diperkuat. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia resmi menghadirkan kebijakan pelabelan Nutri-Level pada produk minuman kemasan.
Melalui sistem ini, konsumen tidak perlu lagi membaca tabel komposisi yang rumit untuk mengetahui kandungan gula dalam minuman. Cukup dengan melihat label huruf pada kemasan, tingkat kandungan gula dan lemak jenuh bisa langsung dipahami secara sederhana.
Empat Kategori Nutri-Level
Dalam penerapannya, Nutri-Level dibagi menjadi empat kategori utama:
- Level A: Menunjukkan produk dengan kandungan paling rendah. Minuman pada kategori ini minim gula, tanpa pemanis tambahan, serta memiliki lemak jenuh kurang dari 1 gram per 100 ml.
- Level B: Menandakan kadar gula dan lemak jenuh yang masih relatif aman, yakni di bawah 5 gram per 100 ml.
- Level C: Masuk kategori lebih tinggi, dengan kandungan gula antara 5 hingga 10 gram per 100 ml.
- Level D: Menjadi penanda untuk minuman dengan kadar gula dan lemak jenuh paling tinggi, yaitu lebih dari 10 gram per 100 ml, sehingga konsumsinya perlu dibatasi.
Dengan sistem ini, masyarakat bisa lebih cepat menentukan pilihan tanpa harus memahami detail angka nutrisi yang sering kali membingungkan.
Penerapan Bertahap untuk Industri
Pada tahap awal, kebijakan ini difokuskan pada produsen besar sebelum nantinya diperluas ke seluruh industri minuman. Pemerintah juga memberikan masa penyesuaian selama 1 hingga 2 tahun agar pelaku usaha dapat beradaptasi secara bertahap.
Langkah ini diharapkan dapat mendorong produsen untuk menghadirkan produk dengan kandungan gula yang lebih sehat.
Belajar dari Negara Lain
Kebijakan serupa sebelumnya telah diterapkan di beberapa negara, termasuk Singapura. Di sana, produk minuman dengan label D bahkan tidak diperbolehkan untuk diiklankan di berbagai media sebagai bentuk pengendalian konsumsi gula berlebih.
Dorong Gaya Hidup Lebih Sehat
Dengan hadirnya Nutri-Level, masyarakat Indonesia diharapkan semakin sadar akan pentingnya memilih minuman yang lebih sehat. Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pencegahan berbagai penyakit yang berkaitan dengan konsumsi gula berlebihan.
Ke depan, label sederhana ini diharapkan bisa menjadi panduan praktis bagi konsumen dalam menentukan pilihan yang lebih bijak setiap hari.














