Media90 – Xpeng kembali menunjukkan ambisinya dalam dunia kendaraan otonom lewat teknologi terbaru bernama VLA 2.0. Sistem ini digambarkan sebagai “otak kendaraan” yang tidak hanya mengendalikan mobil secara otomatis, tetapi juga mampu memahami kondisi jalan, memprediksi situasi, dan mengambil keputusan secara cerdas layaknya pengemudi manusia.
Dirilis pada Maret 2026, VLA 2.0 menjadi tonggak penting dalam pengembangan Physical World Foundation Model yang ditujukan untuk menuju era kendaraan otonom Level 4 (L4).
Langkah Menuju Era Kendaraan Otonom Level 4
Dalam sesi XPENG Physical AI ‘Immersive’ China Tour 2026 di Beijing, China, Yin Ruizhe selaku Senior Manager Intelligent Cockpit Product Operations Xpeng menjelaskan visi besar di balik teknologi ini.
Ia menegaskan bahwa VLA 2.0 adalah langkah awal menuju adopsi massal kendaraan otonom.
“Kami berharap physical world ini dapat membawa teknologi berkendara otonom dari tahap adopsi awal oleh kalangan terbatas menuju adopsi massal,” ujar Ruizhe.
Tujuan akhirnya adalah menghadirkan pengalaman berkendara otonom yang bisa dinikmati semua orang, termasuk pengguna umum hingga orang tua.
Mengatasi Kelemahan Sistem Otonom Sebelumnya
Salah satu fokus utama pengembangan VLA 2.0 adalah memperbaiki keterbatasan sistem bantuan mengemudi generasi sebelumnya.
Jika sebelumnya sistem otonom hanya mampu melewati situasi tertentu tanpa konsistensi perilaku yang aman, VLA 2.0 hadir dengan peningkatan signifikan pada:
- Kemampuan prediksi kondisi jalan
- Pengambilan keputusan yang lebih alami
- Adaptasi kecepatan yang lebih halus
- Perilaku berkendara yang lebih “manusiawi”
Sistem ini mampu mengenali kondisi seperti kemacetan, polisi tidur, hingga hambatan mendadak di jalan.
Ruizhe menjelaskan bahwa VLA 2.0 dapat memprediksi situasi seperti pengemudi berpengalaman, termasuk mengantisipasi gundukan jalan atau perubahan kondisi lalu lintas.
Uji Jalan Ekstrem 5.300 KM
Tak lama setelah peluncurannya, VLA 2.0 diuji secara nyata menggunakan Xpeng G7 dalam perjalanan panjang dari wilayah barat China menuju Shanghai.
Total jarak pengujian mencapai hampir 5.300 kilometer, dengan mayoritas perjalanan menggunakan mode otonom.
Kondisi yang dilalui sangat beragam, mulai dari:
- Salju tebal di Xinjiang
- Hujan deras
- Kabut tebal
- Badai pasir
Hasilnya, sistem VLA 2.0 mampu bekerja stabil di hampir seluruh skenario tersebut.
“99,9% perjalanan dilakukan dengan pengemudian otonom,” ungkap Ruizhe.
Kekuatan di Balik VLA 2.0: AI dan Komputasi Skala Besar
Performa VLA 2.0 ditopang oleh kombinasi kecerdasan buatan, data dalam skala triliunan token, serta chip komputasi yang dikembangkan sendiri oleh Xpeng.
Namun menurut Ruizhe, kekuatan utama sistem ini bukan hanya jumlah chip, melainkan efisiensi pemanfaatannya.
Ia menjelaskan bahwa satu chip Xpeng memiliki performa sekitar 705 TOPS, yang secara nominal setara dengan beberapa chip pesaing. Namun, yang lebih penting adalah bagaimana daya komputasi itu digunakan secara efektif di dunia nyata.
“Bukan tentang berapa banyak chip yang dimasukkan, tetapi bagaimana kita menggunakan chip di dalam kendaraan dan bagaimana itu diterjemahkan ke pengalaman pengguna,” jelasnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa Xpeng tidak hanya fokus pada spesifikasi teknis, tetapi juga pada pengalaman berkendara yang benar-benar terasa di dunia nyata.
Mobil yang Bisa “Berpikir” Sendiri
Dengan hadirnya VLA 2.0, Xpeng mencoba mendefinisikan ulang konsep kendaraan modern. Mobil tidak lagi hanya menjadi alat transportasi, tetapi berubah menjadi sistem cerdas yang mampu:
- Memahami lingkungan
- Memprediksi situasi
- Mengambil keputusan secara mandiri
- Beradaptasi seperti pengemudi manusia
Transformasi ini menandai pergeseran besar dalam industri otomotif, di mana persaingan tidak lagi hanya soal desain dan performa mesin, tetapi juga kecerdasan sistem yang menggerakkan kendaraan.
Penutup
VLA 2.0 menjadi bukti bahwa masa depan mobilitas sedang bergerak menuju era kendaraan yang benar-benar otonom dan “hidup”. Dengan kombinasi AI, data besar, dan komputasi canggih, Xpeng menempatkan diri sebagai salah satu pemain utama dalam perlombaan menuju mobil pintar Level 4.
Jika visi ini terus berkembang, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, konsep “mobil yang bisa berpikir” bukan lagi sekadar inovasi, tetapi standar baru di jalan raya.














