Media90.id – GoTo memastikan akan menghentikan skema langganan GoRide Hemat yang selama beberapa bulan terakhir diterapkan kepada mitra driver Gojek. Kebijakan ini diambil setelah perusahaan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dampak program, baik bagi pengemudi maupun sistem operasional layanan.
Keputusan tersebut menjadi perhatian besar di kalangan mitra pengemudi, mengingat program GoRide Hemat sebelumnya diklaim memberikan prioritas order bagi driver yang berlangganan.
Uji Coba Dimulai Sejak 2025
Skema GoRide Hemat pertama kali diuji secara terbatas pada November 2025. Setelah dianggap berjalan cukup stabil, program ini kemudian diperluas secara nasional pada Februari 2026.
Dalam mekanismenya, mitra driver diwajibkan membayar biaya langganan tertentu untuk memperoleh akses pada sistem pendapatan khusus serta prioritas order. Artinya, pengemudi yang mengikuti skema ini berpeluang lebih besar mendapatkan pesanan dibanding driver reguler.
Namun dalam praktiknya, skema ini memunculkan beragam respons. Sebagian driver merasa terbantu karena order lebih stabil, tetapi sebagian lainnya menilai sistem langganan justru menambah beban biaya operasional harian.
Evaluasi GoTo: Perlu Keseimbangan Sistem
Direktur Utama GoTo, Hans Patuwo, menyampaikan bahwa perusahaan telah melakukan evaluasi mendalam setelah program berjalan sekitar tiga bulan secara nasional.
Menurutnya, hasil kajian menunjukkan bahwa skema langganan perlu disesuaikan agar keseimbangan antara keberlanjutan bisnis dan kesejahteraan mitra tetap terjaga.
GoTo menilai sistem yang ideal harus memberikan keadilan bagi seluruh pengemudi, baik yang aktif mengikuti program maupun yang sebelumnya terbebani biaya tambahan. Karena itu, perusahaan memutuskan untuk menghentikan GoRide Hemat dalam waktu dekat.
Potongan Driver Turun Jadi 8 Persen
Setelah skema langganan dihentikan, mekanisme bagi hasil untuk layanan GoRide akan diseragamkan dengan sistem reguler. Ke depan, mitra pengemudi akan dikenakan potongan sebesar 8 persen untuk setiap perjalanan.
Kebijakan ini merupakan penyesuaian terhadap arahan pemerintah terkait penurunan potongan bagi hasil pengemudi ojek online. Sebelumnya, potongan yang berlaku berada di kisaran 20 persen, sebelum akhirnya didorong untuk diturunkan agar pendapatan driver lebih optimal.
Dengan skema baru ini, GoTo berharap pendapatan mitra menjadi lebih stabil tanpa harus dibebani biaya langganan tambahan.
Dampak ke Tarif Penumpang
Meski dinilai menguntungkan bagi driver, perubahan skema ini berpotensi berdampak pada harga layanan bagi konsumen.
GoTo menyebut akan ada penyesuaian tarif pada layanan GoRide, namun dilakukan secara terbatas dan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat. Perusahaan menegaskan bahwa kenaikan harga, jika terjadi, tidak akan bersifat signifikan.
Dengan demikian, pengguna kemungkinan akan melihat sedikit penyesuaian tarif dibanding sebelumnya, seiring perubahan struktur biaya operasional.
Menunggu Aturan Resmi Pemerintah
GoTo juga menegaskan bahwa implementasi kebijakan baru ini masih menunggu ketentuan resmi pemerintah yang tertuang dalam Perpres 27/2026. Regulasi tersebut akan menjadi acuan teknis terkait skema potongan, tarif, dan mekanisme operasional transportasi online di Indonesia.
Perusahaan menyatakan akan segera menyesuaikan sistem begitu aturan resmi diterbitkan agar tetap sejalan dengan kebijakan pemerintah.
Penyesuaian Ekosistem Transportasi Online
Penghentian skema GoRide Hemat menandai upaya GoTo dalam mencari formula baru yang lebih seimbang antara kebutuhan bisnis, kesejahteraan mitra pengemudi, dan kenyamanan pengguna.
Bagi driver, penghapusan biaya langganan menjadi kabar positif karena mereka tidak lagi harus membayar biaya tambahan untuk mendapatkan prioritas order. Namun di sisi lain, pengguna layanan juga perlu bersiap terhadap kemungkinan perubahan tarif di masa mendatang.














