INTERNASIONAL

Lonjakan Kanker Usus Usia Muda, Studi Temukan Jejak Herbisida dalam DNA

10
×

Lonjakan Kanker Usus Usia Muda, Studi Temukan Jejak Herbisida dalam DNA

Sebarkan artikel ini
Kanker Usus pada Usia Muda Meningkat, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA
Kanker Usus pada Usia Muda Meningkat, Peneliti Temukan Jejak Herbisida di DNA

Media90 – Tren peningkatan kasus Kanker Kolorektal pada kelompok usia di bawah 50 tahun kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine mengungkap temuan mengejutkan, yakni adanya dugaan keterkaitan antara paparan herbisida bernama Picloram dengan meningkatnya kasus kanker ini pada pasien usia muda.

Temuan tersebut membuka perspektif baru dalam dunia Onkologi, yang selama ini lebih banyak mengaitkan kanker usus dengan faktor gaya hidup dan pola makan. Meski masih bersifat awal, peneliti menemukan “sidik jari” DNA pada tumor pasien yang mengindikasikan adanya pengaruh paparan lingkungan terhadap mutasi genetik.

Ads
close ads

Jejak DNA Ungkap Paparan Lingkungan

Tim peneliti menggunakan pendekatan biologi komputasi untuk menganalisis pola mutasi pada tumor pasien. Hasilnya, ditemukan pola spesifik yang menunjukkan adanya paparan zat tertentu sepanjang hidup pasien.

Awalnya, faktor umum seperti merokok, obesitas, dan pola makan menjadi fokus utama. Namun, analisis lanjutan justru menunjukkan korelasi kuat dengan paparan picloram.

Jose Seoane, penulis senior penelitian tersebut, mengaku sempat meragukan hasil awal tersebut.

“Ketika kami melihat picloram, kami pikir ini kesalahan. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, kami tidak menemukan penjelasan lain yang lebih kuat,” ungkapnya.

Picloram dan Potensi Risikonya

Picloram sendiri bukan bahan baru. Herbisida ini telah digunakan sejak 1960-an untuk membasmi tanaman berkayu dan semak tanpa merusak rumput di sekitarnya.

Beberapa karakteristik picloram yang menjadi sorotan antara lain:

  • Memiliki daya tahan tinggi di tanah, sehingga berpotensi mencemari air dan rantai makanan
  • Digunakan secara luas di berbagai negara, termasuk dalam konteks historis seperti perang
  • Bekerja dengan mengganggu hormon pertumbuhan tanaman, yang diduga memiliki dampak tertentu pada sel manusia

Penelitian juga menunjukkan bahwa wilayah dengan penggunaan picloram tinggi cenderung memiliki angka kasus kanker usus usia muda yang lebih besar.

Masih Bersifat Observasional

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa penelitian ini masih bersifat observasional. Artinya, temuan ini baru menunjukkan hubungan (korelasi), bukan sebab-akibat langsung.

Beberapa faktor lain yang juga diduga berperan antara lain:

  • Gaya hidup modern, seperti kurang aktivitas fisik dan konsumsi makanan olahan
  • Infeksi bakteri tertentu sejak usia dini
  • Paparan pestisida pada lingkungan kerja atau tempat tinggal

Dampak pada Kebijakan Kesehatan

Lonjakan kasus ini telah mendorong perubahan kebijakan di beberapa negara. Di Amerika Serikat, misalnya, usia rekomendasi skrining kanker usus diturunkan dari 50 menjadi 45 tahun.

Epidemiolog kanker Rebecca Siegel menyebut bahwa komunitas ilmiah masih membuka berbagai kemungkinan terkait penyebab tren ini.

Ia menegaskan, studi mengenai picloram merupakan langkah penting, namun masih membutuhkan validasi lebih lanjut melalui penelitian skala besar.

“Semua kemungkinan masih terbuka saat ini,” ujarnya.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa faktor lingkungan dapat memainkan peran penting dalam kesehatan manusia. Penelitian lanjutan diperlukan untuk memastikan apakah paparan bahan kimia seperti picloram действительно berkontribusi terhadap meningkatnya kasus kanker usus pada usia muda.

Tinggalkan Balasan