Media90 – Selat Hormuz yang selama ini dikenal sebagai jalur vital energi dunia kini mulai dipandang dari perspektif baru oleh Iran: sebagai pusat infrastruktur digital global yang strategis. Media yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Tasnim News Agency, mendorong pemerintah untuk mulai memonetisasi kabel serat optik bawah laut yang melintasi kawasan tersebut.
Dalam laporan berjudul “Three practical steps for generating revenue from Strait of Hormuz internet cables”, Tasnim menyoroti bahwa Selat Hormuz tidak hanya menjadi jalur kapal tanker minyak, tetapi juga koridor penting bagi arus data global yang menghubungkan Asia, Timur Tengah, dan Eropa.
Selat Hormuz: Jalur Energi Sekaligus “Tulang Punggung Digital”
Setidaknya terdapat tujuh kabel internet bawah laut internasional yang melintasi Selat Hormuz, menjadikannya salah satu jalur komunikasi digital paling penting di dunia. Infrastruktur ini mendukung konektivitas pusat data, layanan cloud, hingga transaksi digital global.
Media lain yang juga terafiliasi IRGC, Fars News Agency, bahkan menyebut kawasan ini sebagai “jalan tol digital tersembunyi” yang memiliki nilai strategis setara atau bahkan lebih besar dari minyak mentah di era modern.
Potensi Ekonomi: Triliunan Dolar di Bawah Laut
Menurut data yang dikutip dalam laporan tersebut, lebih dari US$ 10 triliun transaksi finansial global terjadi setiap hari melalui jaringan kabel bawah laut yang melewati kawasan ini.
Lebih dari 99% komunikasi internet internasional juga bergantung pada kabel bawah laut. Gangguan kecil sekalipun di jalur ini berpotensi menimbulkan kerugian besar bagi ekonomi global, baik di sektor keuangan, cloud computing, maupun layanan digital lainnya.
Tiga Langkah Strategis “Pajak Digital” Iran
Untuk memanfaatkan posisi strategis ini, Tasnim mengusulkan tiga langkah utama yang dapat diterapkan pemerintah Iran:
- Biaya Lisensi Kabel
Perusahaan asing yang menggunakan infrastruktur kabel di wilayah tersebut akan dikenakan biaya lisensi awal dan tahunan. - Yurisdiksi atas Big Tech
Perusahaan teknologi global seperti Meta, Amazon, dan Microsoft diwajibkan tunduk pada regulasi hukum Iran saat data mereka melintasi wilayah tersebut. - Kontrol Pemeliharaan Eksklusif
Iran diusulkan memiliki hak penuh atas pemeliharaan dan perbaikan kabel bawah laut di kawasan yurisdiksinya.
Meniru Model Mesir di Jalur Digital Global
Strategi ini disebut mengikuti model yang telah lebih dulu diterapkan oleh Mesir, yang memanfaatkan posisi geografisnya di Terusan Suez dan Laut Merah untuk menarik biaya transit kabel internet bawah laut melalui perusahaan milik negara, Telecom Egypt.
Selat Sempit dengan Dampak Global
Secara geografis, Selat Hormuz hanya memiliki lebar sekitar 33 kilometer pada titik tersempitnya, menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman. Sekitar 20% pasokan minyak dunia—atau sekitar 20 juta barel per hari—melewati wilayah ini, bersama lebih dari seperempat perdagangan LNG global.
Namun, di balik dominasi energi tersebut, laporan media Iran menyoroti bahwa negara-negara Teluk seperti UEA, Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi justru sangat bergantung pada infrastruktur internet bawah laut yang melintasi kawasan ini.
Risiko Stabilitas Digital Global
Para analis internasional menilai bahwa jika Iran benar-benar menerapkan skema “pajak digital” atau kontrol ketat atas kabel bawah laut, dampaknya dapat merambat cepat ke sistem keuangan global, layanan cloud, hingga operasional perusahaan teknologi besar.
Dengan posisi geografis yang strategis, Iran dinilai memiliki leverage kuat terhadap arus data global. Namun, langkah tersebut juga berpotensi meningkatkan ketegangan geopolitik baru di era digital, di mana infrastruktur informasi kini sama pentingnya dengan jalur energi tradisional.














