Media90.id – Gunung Semeru kembali mengalami erupsi pada Minggu (31/5/2026) pukul 05.45 WIB. Aktivitas vulkanik tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 800 meter di atas puncak gunung atau mencapai ketinggian kurang lebih 4.476 meter di atas permukaan laut.
Berdasarkan hasil pengamatan visual, kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas tebal. Abu vulkanik bergerak ke arah barat daya mengikuti arah angin saat erupsi berlangsung.
Selain terpantau secara visual, letusan juga terekam oleh peralatan seismograf. Data pengamatan menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 22 milimeter dengan durasi erupsi sekitar 130 detik atau lebih dari dua menit.
Aktivitas tersebut menandakan bahwa dinamika vulkanik Gunung Semeru masih berlangsung dan memerlukan pemantauan secara berkelanjutan. Sebagai gunung api aktif tertinggi di Pulau Jawa, Semeru terus menunjukkan aktivitas erupsi yang menjadi perhatian otoritas vulkanologi.
Masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di sekitar kawasan Gunung Semeru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya yang dapat ditimbulkan oleh aktivitas vulkanik tersebut.
Ancaman yang perlu diantisipasi antara lain awan panas guguran, aliran lava, serta lahar yang berpotensi mengalir mengikuti jalur sungai yang berhulu dari puncak Gunung Semeru.
Wilayah yang menjadi perhatian utama meliputi aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. Selain itu, sejumlah sungai kecil yang terhubung dengan Besuk Kobokan juga berpotensi menjadi jalur aliran lahar, terutama saat terjadi hujan di kawasan puncak gunung.
Otoritas vulkanologi mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari pusat erupsi. Kawasan tersebut dinilai memiliki tingkat risiko tinggi terhadap awan panas guguran maupun aliran material vulkanik.
Tidak hanya di jalur utama sungai, masyarakat juga diminta menjauhi area sempadan sungai sejauh 500 meter dari tepi aliran. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga sekitar 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
Kondisi tersebut menjadikan kawasan Besuk Kobokan dan daerah sekitarnya sebagai zona yang harus mendapat perhatian khusus selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Selain pembatasan aktivitas di sepanjang aliran sungai, masyarakat juga dilarang memasuki area dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru. Zona tersebut dinilai sangat rawan terhadap lontaran material pijar yang dapat terjadi sewaktu-waktu saat erupsi berlangsung.
Risiko cedera maupun dampak lainnya meningkat bagi siapa pun yang berada terlalu dekat dengan pusat aktivitas vulkanik. Oleh karena itu, masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan demi keselamatan bersama.
Dengan aktivitas Gunung Semeru yang masih berlangsung, warga diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Kewaspadaan terhadap perubahan aktivitas gunung, kondisi cuaca, serta potensi aliran lahar di sepanjang jalur sungai harus terus ditingkatkan.
Langkah mitigasi yang tepat serta kepatuhan terhadap rekomendasi dari pihak berwenang menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko bencana akibat aktivitas erupsi Gunung Semeru.














